Bondowoso (beritajatim.com) – Gerakan tambal sulam jalan berlubang yang digagas komunitas Makelar Akhirat kembali digelar untuk keempat kalinya. Mengandalkan dana donasi warga, para relawan menutup sejumlah lubang jalan di beberapa titik di Bondowoso, Sabtu (14/3/2026) malam hingga Minggu (15/3/2026) dini hari.
Perbaikan dimulai dari ruas jalan di depan gerbang masuk Makam Ki Ronggo di Kelurahan Sekarputih, Kecamatan Tegalampel. Kegiatan kemudian berlanjut ke Jalan Kartini yang berada di dekat Pendopo Bupati Bondowoso.
Setelah itu relawan bergerak ke Desa Koncer Kidul, Kecamatan Tenggarang hingga beberapa ruas jalan di Kecamatan Tamanan yang kini menjadi jalur alternatif pasca ambrolnya Jembatan Sentong.
Founder Makelar Akhirat, Yusdeny Lanasakti, mengatakan aksi tersebut merupakan bentuk kepedulian warga terhadap keselamatan pengguna jalan. Ia menilai relawan dapat bergerak lebih cepat dibandingkan mekanisme perbaikan melalui jalur birokrasi.
“Kita harus bedakan tugas pemerintah dengan relawan. Kalau pemerintah tentu harus ada program, perencanaan dan butuh waktu. Sementara jalan berlubang ini setiap hari dilewati pengendara, bahkan ada yang sampai jatuh dan menjadi korban,” kata Yusdeny.
Menurutnya, keberadaan relawan bukan untuk menggantikan peran pemerintah, melainkan membantu masyarakat agar risiko kecelakaan akibat jalan rusak bisa ditekan.
Selain menutup lubang jalan, gerakan tersebut juga dimaksudkan untuk menghidupkan kembali semangat gotong royong di tengah masyarakat.
“Kita ingin mengkampanyekan semangat warga untuk warga. Kita bergandengan tangan, gotong royong, karena jalan ini juga kita yang pakai,” ujarnya.
Sejumlah ruas jalan yang sebelumnya telah ditambal relawan di antaranya Jalan HOS Cokroaminoto di Kelurahan Kademangan, Jalan MT Haryono di Kelurahan Badean, kawasan Sekarputih, serta Jalan Kartini di Kelurahan Blindungan.
Yusdeny menjelaskan titik perbaikan diprioritaskan berdasarkan laporan masyarakat di media sosial, terutama lokasi yang sering menyebabkan pengendara terjatuh.
“Kita fokus di titik yang paling banyak dilaporkan masyarakat atau netizen. Yang sering ada orang jatuh di situ, itu yang kita utamakan,” katanya.
Terkait adanya pro dan kontra di media sosial, Yusdeny mengaku hal tersebut sudah menjadi hal biasa. Ia menegaskan kegiatan yang dilakukan komunitasnya tidak berkaitan dengan kepentingan politik.
“Harapan kita murni kemanusiaan. Kita tidak terpikir kegiatan yang berbau politik. Kalau ada yang berpikir negatif itu bukan ranah kita, tapi yang berpikir positif tentu akan mendukung,” ujarnya.
Ia menambahkan, kegiatan tambal sulam jalan akan terus dilakukan selama masih ada dukungan dana dari para donatur.
“Sampai kita tidak punya uang. Kalau masih ada donasi, kita beli aspal dan terus jalan. Tapi kalau donasi tidak ada, ya kita berhenti dan kembali ke kegiatan utama kita untuk santunan duafa dan fakir miskin di Bondowoso,” katanya.
Dalam sekali kegiatan, relawan biasanya menggunakan sekitar 100 sak aspal dengan biaya sekitar Rp9 juta. Jika menggunakan 50 sak, biaya yang dibutuhkan berkisar Rp5 hingga Rp6 juta.
Menanggapi kritik bahwa pengaspalan relawan tidak sesuai standar, Yusdeny mengakui pada awal kegiatan sempat terjadi kerusakan akibat hujan deras. Namun teknik penambalan kini sudah diperbaiki.
“Awal-awal memang sempat brodol karena hujan deras. Sekarang tekniknya sudah kita perbaiki dan cuaca juga mulai mendukung. Insyaallah lebih kuat,” ujarnya.
Ia menjelaskan metode yang digunakan saat ini sama dengan teknik penambalan jalan yang lazim digunakan, yakni menggunakan aspal jenis coldmix.
“Kalau untuk tembelan kecil memang pakai coldmix. Hotmix biasanya untuk pembangunan jalan baru karena harus dibakar satu tong dan itu tidak efisien untuk tambalan kecil,” pungkasnya. [awi/suf]






