Surabaya (beritajatim.com) – Ning Nadia Abdurrahman mengungkapkan kesan pertamanya saat mengisi tausiyah di lingkungan PDI Perjuangan Jawa Timur. Alih-alih tegang seperti yang dibayangkan, ia justru merasakan suasana hangat dan penuh keakraban.
“Pertama kali nyemplung, istilahnya bertatap muka dengan orang-orang di balik kesuksesan PDI Perjuangan. Masyaallah, ternyata seasik itu, tidak semenyeramkan yang dibayangkan,” ujar Ning Nadia.
Pengalaman tersebut menjadi titik awal bagi dirinya untuk melihat sisi lain dari para kader partai. Forum halal bihalal, menurutnya, bukan hanya ajang pertemuan, tetapi juga ruang untuk memperbaiki relasi sosial antarmanusia.
“Halal bihalal ini menjadi ruang untuk saling menghalalkan, menggugurkan dosa-dosa sosial. Karena kesalahan antarmanusia tidak cukup diselesaikan hanya dengan taubat kepada Allah, tapi juga harus dengan kerelaan sesama,” tuturnya.
Pengasuh Pondok Pesantren Qolam Wa Lauh, Kwagean, Kediri itu juga menilai tradisi halal bihalal memiliki peran penting dalam kehidupan berbangsa. Ia mengapresiasi upaya menjaga tradisi tersebut sebagai bagian dari warisan budaya yang mampu memperkuat persaudaraan.
Di hadapan para kader banteng, ia mengajak agar silaturahmi tidak berhenti pada momen seremonial semata. Hubungan yang sempat renggang, kata dia, justru perlu dirawat kembali agar tercipta harmoni sosial yang lebih kuat.
Sebagai penutup, Ning Nadia membagikan tiga konsep sederhana yang bisa menjadi pegangan dalam menjaga hubungan, yakni takhali, tahali, dan tajali.
Takhali dimaknai sebagai upaya mengosongkan hati dari dendam. Tahali berarti menghiasi hati dengan sikap memaafkan. Sedangkan tajali merupakan tahap memastikan hubungan menjadi lebih baik dari sebelumnya.
“Semoga kita keluar dari majelis ini dengan tiga oleh-oleh itu,” ucapnya. [asg/beq]






