Jember (beritajatim.com) – Dapur program Makan Bergizi Gratis akan dibangun di Gedung Nasional Indonesia (GNI), sebuah gedung bersejarah yang terletak di Jalan WR Supratman, Kelurahan Kepatihan, Kecamatan Kaliwates, Kabupaten Jember, Jawa Timur.
Rencana pembangunan dapur MBG ini ditandai dengan berdirinya papan pengumuman di depan GNI, bertuliskan: Lokasi ini akan dibangun Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kepolisian Negara Republik Indonesia.
GNI dibangun pada era 1950-an di atas sebagian tanah bekas DSV yang telah dijual kepada Yayasan Gedung Nasional Indonesia.
Menurut buku Wakil Rakyat Kabupaten Jember Tempo Doeloe dan Sekarang, GNI saat itu berfungsi sebagai balai pertemuan organisasi kemasyarakatan dan partai politik. Pemerintah daerah saat itu membantu pembangunan dan membebaskan gedung tersebut dari pajak tontonan.
GNI menjadi aset Pemkab Jember setelah diserahkan Yayasan Gedung Nasional Indonesia (GNI) kepada Bupati Hendy Siswanto, di Pendapa Wahyawibawagraha, 13 Januari 2022.
Sebagaimana dilansir Jemberkab.go.id, 14 Januari 2022, Sekretaris Yayasan GNI Sri Mulyati Munajah menyampaikan, personel struktural organisasi sudah banyak yang meninggal dunia. Penyerahan gedung itu merupakan amanat Ketua Yayasan GNI almarhum Munajah, yang berharap dengan diserahkan ke Pemkab Jember, GNI tidak terbengkalai dan bisa dirawat.
Representasi Nasionalisme di Bidang Arsitektur
RZ Hakim, sejarawan Jember, mengatakan, GNI dibangun pada era 1950-1960 berdasarkan perintah Presiden Sukarno. “Presiden Sukarno memerintahkan anak-anak sekolah teknik dan sekolah teknik menengah untuk membuat bangunan berdesain arsitektur Indonesia,” katanya.
Menurut Hakim, Sukarno ingin bentuk bangunan Indonesia melepaskan diri dari pengaruh kolonial dan erosentris. “Kita anti netherland sampai ke urusan arsitektur. Ketika dibarengi narasi yang benar, GNI melengkapi kepingan-kepingan sejarah Jember,” katanya.
Hakim menilai GNI adalah bangunan bersejarah yang tersisa di Jember. “Aku sangat berharap tempat itu tidak menjadi dapur MBG, karena akan ada pembongkaran-pembongkaran yang tidak lagi mengindahkan sisi narasi sejarah,” katanya.
Hakim khawatir ada identitas yang hilang saat GNI dibongkar untuk disesuaikan standar dapur MBG. “Jember akhirnya kehilangan identitas siapa dirinya justru di jantung kotanya. Aku sangat menyayangkan itu dan berharap negara hadir di sana,” katanya.
Hakim menyarankan kepada Pemerintah Kabupaten Jember untuk merestorasi GNI. “Meskipun ada unsur inovasi di sana, tidak menghilangkan identitas GNI, dan orang masih tahu itu GNI,” katanya.
Menurut Hakim, GNI bisa dijadikan lokasi gedung kesenian atau museum daerah. “Lebih mudah dijangkau kalau di sana ada museum daerah,” katanya.
Selain GNI, menurut Hakim, ada beberapa bangunan tua dan bersejarah di Jember yang perlu dlindungi pemerintah daerah di kawasan kota. “Bangunan-bangunan itu menggunakan motif Eropa, seperti rumah ibadah, penjara, kantor pos,” katanya.
Pemkab Jember: GNI Dimanfaatkan Tanpa Ubah Bentuk
Kepala Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Jember Jupriono mengatakan, pemerintah daerah mendukung MBG sebagai program prioritas nasional sesuai arahan pemerintah pusat.
“Bentuk dukungannya, satu, mengoordinasi atau mengolaborasikan berbagai pemangku kepentingan agar Makan Bergizi Gratis dari Bapak Presiden terlaksana baik,” kata Jupriono, Senin (10/11/2025).
Selain itu, menurut Jupriono, aset-aset pemerintah daerah yang belum dimanfaatkan maksimal bisa digunakan untuk mendukung program MBG.
“Kalau aset-aset itu dimanfaatkan, tentunya kita bisa menambah Pendapatan Asli Daerah Jember. Jadi optimalisasi aset diperlukan, biar ruang fiskal kita bertambah lebih besar lagi,” katanya.
Jupriono menegaskan, pemerintah daerah menghargai karya anak bangsa. “Kita tidak boleh melupakan. Kalau itu merupakan cagar budaya, kita akan cek kembali. Kita yakini kita hanya memanfaatkan tanpa mengubah,” katanya.
“Kalau memang itu dinyatakan cagar budaya, jangan sampai berubah bentuknya, karena kita menghargai karya-karya pendahulu kita,” kata Jupriono. [wir]






