Situbondo (beritajatim.com) – Pasangan Yusuf Rio Wahyu Prayogo dan Ulfiyah resmi memperoleh nomor urut 1 sebagai peserta pemilihan kepala daerah Kabupaten Situbondo, Jawa Timur. Rio tidak terlalu risau dengan urusan nomor urut.
Rio-Ulfiyah diusung dan didukung Partai Kebangkitan Bangsa, Golkar, PDI Perjuangan, Partai Persatuan Pembangunan, Partai Nasional Demokrat, Hanura, dan Partai Solidaritas Indonesia yang memiliki kekuatan 35 kursi di DPRD Situbondo.
Sejumlah pendukung Rio berbeda pendapat soal nomor urut ini. “Sejak awal pendukung ada yang bilang nomor 1 atau nomor 2, saya bilang: simbol kita dengan tangan menyilang di depan dada sudah menjadi virus, brand sugning dari awal. Mau dapat nomor 1 atau 2, tangan tetap disilang karena itu lebih meaningful buat kita semua ketimbang sekadar nomor,” katanya, Selasa (24/9/2024).
Simbol tangan menyilang di depan dada ini mirip dengan simbol gerakan tangan prajurit Wakanda, sebuah negeri dongeng dalam film Black Panther.
Namun, lanjut Rio, pemaknaan nomor 1 bisa saja dicari-cari. “Dalam bahasa Madura bisa diartikan patenang, penyettong, pamenang (tetap tenang, bersatu, menangkan, red). Begitu saja sih. There’s nothing special about the number,” kata mantan aktivis Himpunan Mahasiswa Islam Universitas Jember ini.
Saat memberikan sambutan dalam rapat pleno pengundian nomor urut pasangan calon kepala daerah dan wakilnya, di kantor Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Situbondo, Senin (23/9/2024) malam, Rio mengatakan, daerah tersebut butuh penyegaran dan sesuatu yang baru. “Berdoa untuk lahirnya pemimpin baru,” katanya.
Dari segi generasi, Rio-Ulfiyah berbeda generasi dengan pasangan petahana Karna Suswandi dan Khoirani. “Pasangan yang lain boleh dikatakan generasi menjelang baby boomer. Sementara saya dan wakil saya adalah generasi milenial dengan segala dinamikanya. Umur kami 40 tahun. Maka, cara pandang milenial terhadap kebijakan publik dan manajemen pemerintahan pasti berbeda,” kata Rio.
Sebagai bagian dari generasi milenial, Rio menjanjikan pemerintahannya akan lebih terbuka terhadap kritik dan masukan dalam pengambilan keputusan. “Itu jadi karakter milenial. Tidak terjebak dengan value birokrasi yang selama ini feodalistik. Kami keluar dari kerangka itu. Apalagi saya orang yang sangat independen, sangat terbuka dan merdeka selayaknya milenial,” katanya.
Menurut Rio, wajah Situbondo ke depan adalah Situbondo yang menerima segala perspektif. “Dan meletakkan seluruh perspektif dalam komteks sinergi. Tidak boleh hanya apa kata bupati. Bupati tidak hanya terdefinisi apa kata bupati atau kemauan bupati. Seluruhnya harus terlibat. Ada engagement di seluruh stakeholder,” katanya. [wir]






