Lamongan (beritajatim.com) – Menjelang Lebaran Iduladha 1443H/2022M, harga sapi di Kabupaten Lamongan mengalami kenaikan.
Hal ini juga merupakan imbas dari sebaran Penyakit Mulut dan Kaki (PMK) yang semakin meluas.
Hal tersebut seperti yang diakui oleh salah satu peternak sapi di Desa Kranji, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan, Muhammad Anwar.
“Untuk saat ini harga jual sapi naik jika dibandingkan dengan sebelumnya. Dari yang sebelumnya harganya di kisaran Rp21 juta, kini naik menjadi Rp24 juta, bahkan bisa lebih untuk yang bobot 200 kilogram,” ujar Anwar, Kamis (16/06/2022).
Anwar menduga, kenaikan harga sapi ini dipengaruhi oleh tingginya permintaan sapi untuk kebutuhan kurban.
[berita-terkait number=”4″ tag=”penyakit-mulut-kuku”]
Sedangkan ketersediaan yang ada di peternak terbatas. Apalagi mewabahnya PMK ini juga menyebabkan pasokan hewan berkurang karena diberlakukannya pembatasan lalu lintas sapi dan ditutupnya pasar hewan.
“Karena sapi yang keluar masuk ke Lamongan harus melewati prosedur dan adanya pembatasan lalu lintas hewan kurban karena PMK. Pengiriman sapi harus mengajukan surat terlebih dahulu, juga ada karantinanya. Akibatnya pasokan sapi di tingkat pedagang terbatas, sementara permintaan meningkat,” terangnya.
Selain kurangnya pasokan, Anwar menilai bahwa naiknya penjualan sapi kurban ini terjadi akibat pedagang harus menambah uang modal untuk memastikan sapi yang dijual sehat.
“Ongkos operasional membengkak, karena harus melewati beberapa persyaratan dan pengecekan kesehatan hewan, jadi pengaruh ke harga,” bebernya.

Kenyataan naiknya harga sapi kurban ini pun membuat panitia kurban di salah satu masjid di Kabupaten Lamongan turut menaikkan biaya kurban bagi jamaahnya.
Salah satu panitia kurban, Muchlisin mengatakan bahwa biaya kurban untuk satu orang jamaah di lingkungannya naik, biasanya satu orang jamaah mengeluarkan biaya sebesar Rp2,8 juta sampai Rp3 juta, kini naik menjadi Rp3,5 juta.
“Kenaikan biaya kurban sudah kita koordinasikan dengan jamaah, dan diharapkan jamaah mengerti dengan kondisi saat ini,” ungkap Muchlisin.[riq/ted]






