Ringkasan Berita:
- Kemenhaj RI melayangkan imbauan tegas kepada seluruh pemerintah daerah untuk menghentikan seremoni penyambutan jemaah haji yang berlebihan.
- Kebijakan ini diambil demi melindungi kondisi fisik para tamu Allah yang telah mengalami kelelahan ekstrem pasca-perjalanan panjang dari Arab Saudi.
- Integrasi teknologi face recognition di gerbang kedatangan bandara sukses memangkas rantai birokrasi pemeriksaan dokumen manual.
- Otoritas melarang keras adanya pidato panjang dari pejabat daerah maupun jajaran internal Kantor Wilayah Kemenhaj provinsi.
Makkah (beritajatim.com) – Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Republik Indonesia mengeluarkan imbauan keras kepada seluruh jajaran pemerintah daerah (Pemda), mulai dari gubernur, bupati, hingga wali kota, untuk tidak menggelar acara seremonial yang berlebihan saat menyambut kedatangan jemaah haji di tanah air.
Kebijakan ini ditegaskan secara taktis guna memastikan jemaah haji reguler dapat langsung dipulangkan ke kediaman masing-masing untuk beristirahat tanpa tersita energinya oleh formalitas birokrasi.
Pemerintah pusat memprioritaskan aspek perlindungan kesehatan pasca-ibadah mengingat akumulasi kelelahan fisik ratusan ribu jemaah setelah melewati fase Armuzna sangat tinggi. Pihak kementerian tidak ingin kepulangan para tamu Allah terhambat di asrama haji debarkasi hanya demi mendengarkan pidato sambutan yang panjang dan tidak efektif.
“Mohon dipahami oleh para pejabat di daerah agar tidak terlalu banyak acara-acara seremonial karena jamaah haji kita itu sudah cukup letih, sudah cukup capek agar kemudian bisa dipercepat untuk kembali ke kediamannya masing-masing,” ujar Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj), Dahnil Anzar Simanjuntak, saat memberikan keterangan pers di Kantor Urusan Haji (KUH) Jeddah, Rabu (3/6/2026).
Wartawan beritajatim.com, Muhammad Isnan yang tergabung dalam Media Center Haji (MCH) Kemenhaj RI melaporkan dari Arab Saudi, Rabu (3/6/2026), instruksi pemangkasan birokrasi hilir ini bergulir simultan dengan komitmen penegakan efisiensi waktu di sejumlah bandara internasional kedatangan di Indonesia. Kemenhaj meminta otoritas daerah bersikap sensitif dan empati terhadap kondisi biologis jemaah haji, terutama kelompok lanjut usia.
Percepatan Alur Kedatangan Lewat Sistem Face Recognition
Guna mendukung percepatan sirkulasi pemulangan tersebut, Dahnil memaparkan bahwa Kemenhaj telah mengunci kerja sama taktis lintas sektoral bersama Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan di pintu gerbang udara nasional.
“Melalui kolaborasi ini, skema pemeriksaan paspor konvensional yang kerap memicu antrean panjang kini resmi dieliminasi total melalui digitalisasi sistem,” terang Dahnil.
Petugas bandara kini mengoperasikan teknologi pemindaian wajah (face recognition) otomatis di gerbang kedatangan internasional. Modifikasi sistem ini membuat jemaah tidak perlu lagi mengantre untuk pengecekan dokumen secara manual karena identitas manifes penerbangan langsung terverifikasi secara instan saat jemaah berjalan melewati pintu pembatas.
“Jadi di gate itu langsung dikenali wajahnya, tidak ada pemeriksaan-pemeriksaan lagi, langsung menuju bis dan bisa langsung kembali ke demarkasi di asrama haji, kemudian kembali ke rumahnya masing-masing,” papar politisi Partai Gerindra tersebut menerangkan efisiensi waktu kargo manusia di bandara hulu.
Sejalan dengan larangan bagi kepala daerah, Kemenhaj juga melempar instruksi kaku yang mengikat ke dalam internal organisasi. Seluruh Kepala Kantor Wilayah (Kanwil) Kemenhaj di tiap provinsi diharamkan membuat susunan acara penyambutan yang kaku dan menyita waktu jemaah di aula asrama haji.
“Jadi kami mohon dengan sangat agar tidak ada lagi acara-acara seremonial yang berlebihan, yang memakan waktu dan menyita energi para jemaah haji,” tutur mantan dosen Untirta Banten tersebut secara lugas.
Kendati mengeluarkan larangan keras terhadap formalitas penyambutan, Wamenhaj tetap menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih yang mendalam kepada seluruh jajaran pemerintah daerah di Indonesia.
Dukungan logistik, fasilitas armada bus daerah, hingga pengawalan keamanan ambulans yang diberikan oleh jajaran Pemda dinilai memiliki andil besar dalam menyukseskan operasional perlindungan jemaah sejak fase keberangkatan hingga pemulangan musim haji 1447 H. [ian/MCH/suf]






