Makkah (beritajatim.com) – Pengakuan publik mengenai keberhasilan peningkatan mutu pelayanan haji terus mengalir dari para jemaah di hotel pemondokan Makkah. Jemaah haji reguler menilai performa dedikasi petugas lapangan serta terobosan kebijakan mitigasi di Muzdalifah pada musim haji 1447 Hijriah atau 2026 Masehi ini berjalan jauh lebih baik dan tertata dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Kelancaran sirkulasi pergerakan jemaah selama fase krusial Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna) menjadi salah satu parameter utama yang memicu respons positif tersebut. Penataan jadwal yang presisi terbukti mampu memberikan rasa aman sekaligus menekan tingkat kelelahan fisik jemaah secara signifikan.
“Kalau untuk pelayanan sudah sangat bagus, terutama sama petugas-petugasnya semua adalah, ya pokoknya untuk jemaah bagus semua,” ungkap jemaah haji asal Kabupaten Papua Selatan yang tergabung dalam Kloter 29 UPG Embarkasi Makassar, Rahmat Murhan, saat diwawancarai di Makkah.
Wartawan beritajatim.com, Muhammad Isnan yang tergabung dalam Media Center Haji (MCH) Kemenhaj RI melaporkan dari Arab Saudi, Rabu (3/6/2026), Rahmat merupakan satu dari puluhan ribu jemaah luar pulau yang merasakan langsung dampak dari reformasi birokrasi Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) RI di bawah kepemimpinan Kabinet Merah Putih.
Dalam pengakuannya, Rahmat membeberkan portofolio pengalamannya saat mengarungi fase kritis kepadatan massa di jalur Muzdalifah. Berkat ketepatan rekayasa lalu lintas dari satuan operasi kementerian, rombongan kloternya tidak perlu terjebak dalam antrean hamparan padang terbuka yang berisiko memicu sengatan panas (heatstroke).
Kelebihan muatan sirkulasi diantisipasi secara taktis melalui penerapan skema murur, yakni sistem transportasi bus yang membawa jemaah melintas melewati Muzdalifah menuju Mina tanpa harus turun dari armada. Kebijakan proteksi ini dikonsentrasikan penuh bagi keselamatan jemaah risiko tinggi serta lansia.
“Armuznanya, ya semua bagus kalau untuk armuznanya. Kemarin karena kebetulan dari Rakeen pengaturannya kita kemarin tidak sempat mabit di Muzdalifah. Kita murur saja, menumpang lewat, karena posisinya sudah lewat tengah malam,” jabar Rahmat menceritakan kelancaran sirkulasi bus kargo manusia tersebut.
Rahmat menambahkan bahwa jika dibandingkan dengan cerita atau catatan rekam jejak penyelenggaraan haji pada masa lampau, fasilitas yang diterimanya saat ini mengalami lompatan mutu yang mencolok. “Kalau untuk tahun-tahun sebelumnya katanya sih agak, ya tidak sebagus yang sekarang. Kalau yang sekarang ya, lebih bagus yang sekarang ini,” tuturnya membandingkan.
Selain sektor transportasi hulu Armuzna, manajemen penempatan akomodasi di Kota Makkah juga mendapat nilai hijau dari jemaah Indonesia Timur tersebut. Fasilitas penginapan dan ruang istirahat yang disediakan di klaster Syishah dinilai sangat layak dan menunjang kenyamanan psikologis jemaah sebelum Armuzna hingga bersiap menunggu kepulangan ke tanah air.
“Kalau untuk fasilitas hotel yang sekarang kita tinggal ini ya lumayan bagus. Kalau secara umum semua global, untuk pelayanan bagus semua,” kata Rahmat menyampaikan rasa terima kasihnya kepada negara dan juga para petugas.
Kendati melayangkan kepuasan, Rahmat tetap bersikap konstruktif dengan melempar satu poin catatan evaluasi penting demi penyempurnaan haji 1448 Hijriah atau 2027 Masehi mendatang. Fokus pembenahan yang disorotnya mengarah pada tingkat kepadatan tata ruang di dalam kamar tidur hotel.
Ia mengimbau agar Kemenhaj ke depan menerapkan aturan kaku yang membatasi kapasitas hunian kamar demi menjaga privasi dan kenyamanan sirkulasi udara jemaah haji reguler selama menetap di Tanah Suci.
“Kalau untuk perbaikan ke depan sih, mungkin masalah kamar saja ya. Kamar untuk jemaahnya mungkin kalau bisa 4 orang di dalam. Jangan sampai 5 atau 6. Itu saja sih, Pak,” pungkas Rahmat menutup testimoninya. (ian/MCH/but)






