Sampang (beritajatim.com) – Cuaca tak menentu sepanjang tahun ini membawa dampak berbeda bagi para petani di Kabupaten Sampang. Jika sebagian petani tembakau mengeluhkan tanaman mati akibat tergenang air, lain halnya dengan petani padi di Desa Daleman, Kecamatan Kedungdung, yang justru bersyukur karena memperoleh hasil panen melimpah.
“Biasanya saat musim kemarau, kami kesulitan air hingga harus membeli untuk mengairi sawah. Tapi tahun ini, alhamdulillah, hujan masih turun meski sudah masuk musim kemarau. Kami tidak perlu keluar biaya tambahan,” ujar Salamo, salah satu petani di Desa Daleman, Kamis (19/6/2025).
Kondisi ini menjadi berkah tersendiri bagi para petani. Ketersediaan air yang cukup memungkinkan mereka menjalani musim tanam kedua dengan lebih efisien dan tanpa beban biaya irigasi tambahan.
“Kalau biasanya musim tanam kedua hasilnya kurang maksimal dan biayanya lebih besar, tahun ini beda. Hasilnya sangat baik, bahkan nyaris setara dengan panen pertama. Ini salah satu musim tanam terbaik dalam beberapa tahun terakhir,” pungkas Salamo.
Fenomena cuaca yang tak menentu ini sekaligus menunjukkan bagaimana dampak iklim bisa berbeda antar komoditas dan wilayah. Di tengah tantangan perubahan iklim, para petani padi Sampang justru meraih momentum keberuntungan yang jarang terjadi. [sar/beq]






