Sampang (beritajatim.com) – Capaian produksi garam di Kabupaten Sampang pada tahun ini jauh dari harapan. Pasalnya, target semula sekitar 315 ribu ton, yang tercatat hanya berkisar 25 ribu ton.
Kepala Bidang Perikanan dan Budidaya Dinas Perikanan Sampang, Moh. Mahfud, mengungkapkan bahwa selisih antara target dan hasil produksi sangat signifikan.
Menurutnya, kondisi cuaca menjadi penyebab utama turunnya produksi garam di berbagai wilayah. “Menurunnya produksi garam ini dampak cuaca yang kurang bersahabat,” terangnya, Kamis (8/1/2026).
Ia menjelaskan, tingginya intensitas curah hujan membuat proses penguapan air laut di lahan tambak tidak berjalan optimal. Akibatnya, hasil panen garam petani menurun drastis.
Sejumlah kecamatan penghasil garam mengalami kondisi serupa, termasuk Kecamatan Pangarengan yang selama ini dikenal sebagai salah satu pusat produksi garam rakyat di Sampang.
Pihaknya akan terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan produksi garam. “Data tersebut nantinya akan dijadikan bahan evaluasi serta dasar perencanaan kebijakan ke depan,” kata dia.
Sementara itu, salah seorang petani garam setempat, Mohdi, mengaku hasil panen tahun ini jauh lebih rendah dibandingkan musim sebelumnya. Ia menyebut cuaca yang sulit diprediksi sangat memengaruhi produktivitas petani. “Cuaca sering berubah-ubah, jadi produksi garam ikut turun,” jelasnya.
Ia menambahkan, menurunnya hasil panen menyebabkan ketersediaan stok garam di tingkat petani semakin terbatas. Kondisi ini berdampak langsung pada pasokan ke pasar dan mendorong kenaikan harga. “Saat ini harga garam di kisaran Rp150 ribu per karung karena stoknya sedikit,” pungkasnya. [sar/kun]






