Surabaya (beritajatim.com) – Pedagang ikan di Pasar Pabean Surabaya mengeluhkan penurunan omzet yang cukup drastis akibat dampak cuaca ekstrem yang kerap terjadi dalam beberapa waktu terakhir. Kondisi cuaca yang tidak bersahabat membuat nelayan jarang melaut sehingga berdampak langsung pada ketersediaan stok ikan di pasar.
Kelangkaan stok ikan hasil tangkapan nelayan menjadi persoalan utama yang dihadapi pedagang. Selain jumlah ikan yang menipis, kualitas ikan segar juga menurun, sementara harga justru melonjak. Di sisi lain, jumlah pembeli turut mengalami penurunan karena harga ikan yang semakin mahal.
Salah satu pedagang ikan Pasar Pabean, Huda (27), mengungkapkan bahwa saat ini ikan dengan kualitas super sudah sangat sulit didapatkan. Kalaupun tersedia, harganya jauh lebih mahal dibandingkan kondisi normal, bahkan hampir dua kali lipat.
“Cumi merah ini biasanya Rp65 ribu per kilogram, cumi putih Rp70 ribu per kilogram. Sekarang stoknya jarang, dan kalau ada harganya bisa mencapai Rp95 ribu sampai Rp100 ribu per kilogram,” ujar Huda di lapaknya, Rabu (21/1/2026).
Ia menambahkan, para pedagang sebenarnya memahami kondisi yang dialami para nelayan. Banyak nelayan mengeluh hasil tangkapan yang minim meski sudah semalaman berada di tengah laut, karena cuaca ekstrem yang tidak menentu.
“Stok benar-benar menipis, ikan segar jarang ada. Kalau ikan fresh sudah tidak tersedia, kami terpaksa menjual ikan beku yang kualitasnya jauh di bawah ikan segar,” jelasnya.
Selain faktor kelangkaan dan mahalnya harga, Huda menyebut para pelanggan kini mulai beralih ke jenis ikan dengan harga yang lebih murah. Situasi ini semakin memperparah kondisi penjualan dan berdampak langsung pada omzet harian pedagang.
“Penurunan omzet cukup terasa. Kalau hari normal biasanya bisa lebih dari Rp8 juta per hari. Sekarang saat cuaca ekstrem rata-rata hanya sekitar Rp3 juta, maksimal Rp5 juta,” pungkasnya. (rma/but)







