Surabaya (beritajatim.com) – Ratusan Orang Dalam Gangguan Jiwa (ODGJ) dan orang terlantar memberikan hak pilihnya dalam pemilihan umum 2024 di Liponsos Keputih, Surabaya, Rabu (14/02/2024). Berdasarkan pantauan Beritajatim.com, penghuni Liponsos mulai keluar dari barak pada 08.00 dan langsung mengantre di Tempat Pemungutan Suara (TPS). Para penghuni Liponsos Keputih dikawal oleh petugas agar bisa mengikuti Pemilu 2024 dengan tertib.
Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Surabaya Anna Fajriatin mengatakan, di Liponsos Keputih ada 586 orang yang masuk dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT) per Juni 2023. Beberapa bulan kemudian hanya 476 orang yang memungkinkan untuk ikut dalam pemilu di Surabaya.
“Selang waktu beberapa bulan itu ada orang yang diambil keluarganya dan meninggal, Selain itu ada yang kondisi mentalnya tidak stabil seperti dibawa ke rumah sakit atau barak. Kondisinya tidak memungkinkan (memilih) dan ditakutkan membahayakan lingkungan sekitar,” kata Anna diwawancarai Beritajatim di lokasi.
Proses petugas untuk mengarahkan para penghuni Liponsos untuk ikut memberikan suaranya dalam Pemilu 2024 juga tidak mudah. Berbeda dengan petugas TPS pada umumnya, petugas harus mengawal sejak para penghuni dikeluarkan dari barak. Tampak petugas juga memberikan penjelasan hingga berulang kali cara memilih.
“Petugas juga harus memastikan warga disabilitas mental memberikan suaranya. Nanti mereka di dalam bilik ya memilih sendiri,” imbuh Anna.
Beberapa penghuni Liponsos terlihat kebingungan ketika dipanggil oleh anggota KPPS. Akhirnya, petugas tersebut harus menjemput dan menjelaskan secara perlahan terkait pencoblosan.
Akan tetapi, petugas tetap membiarkan para ODGJ dan terlantar tersebut menentukan pilihan sendiri di bilik suara. Warga binaan itu pun melihat satu per satu para caleg maupun capres.
“Pastinya usaha KPPS lebih besar, karena yang dihadapi adalah mungkin disabilitas mental. Daya tangkapnya beda, kami sebatas melakukan tugas kami, apapun hasilnya tetap di tangkap mereka,” tutupnya. [ang/but]






