Jakarta (beritajatim.com) – Sebagai bentuk komitmen nyata dalam menjamin hak kesehatan warga negara, Wakil Ketua Komisi IX Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI), Charles Honoris, secara terbuka menawarkan jalur komunikasi langsung kepada penyintas HIV/AIDS. Aksi ini dilakukan saat peringatan Hari AIDS Sedunia di Kawasan Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta, pada Senin (1/12/2025).
Charles Honoris bahkan memberikan nomor kontak pribadinya kepada khalayak agar Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) dan anak-anak penyintas (ADHA) dapat langsung melaporkan masalah diskriminasi atau kesulitan akses layanan.
“Kami terbuka untuk bisa dihubungi, diberikan masukan, diminta untuk melakukan advokasi apabila Bapak Ibu teman-teman menghadapi berbagai permasalahan di lapangan,” ujar Charles.
Penawaran advokasi langsung ini muncul sebagai respons atas temuan di lapangan mengenai masih banyaknya kesulitan yang dihadapi ODHA. Charles Honoris menyoroti secara spesifik dua masalah utama: akses mendapatkan obat yang masih sulit dan adanya diskriminasi di fasilitas layanan kesehatan (faskes).
Charles Honoris dengan tegas memastikan bahwa layanan kesehatan merupakan hak dasar yang wajib diterima setiap warga negara tanpa pengecualian.
“Layanan kesehatan adalah hak dari setiap warga negara dan tentunya tidak boleh ada diskriminasi sama sekali,” tegas politisi PDI Perjuangan ini, menekankan bahwa layanan optimal bagi penyintas HIV/AIDS adalah kewajiban yang diemban.
Menyambut inisiatif tersebut, Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) PDI Perjuangan, Sri Rahayu, menekankan pentingnya tanggung jawab kolektif dari semua pihak. Hal ini didorong oleh kenyataan bahwa jumlah penyintas HIV terus bertambah.
“Ibu Ketua Umum selalu menyampaikan kepada kita semua, karena jumlah penyintas HIV ini bukan semakin turun, tetapi semakin banyak dengan berbagai sebab. Maka kita semua punya tanggung jawab,” kata Sri Rahayu.
Sri Rahayu mengajak para penyintas, keluarga, dan kader partai untuk memperkuat komunikasi yang intensif. Komunikasi ini, menurutnya, sangat krusial, khususnya untuk memberikan edukasi yang memadai kepada anak-anak (ADHA) tentang cara mengakses pengobatan lanjutan.
Ia berharap upaya kolektif ini dapat menumbuhkan rasa kebersamaan. “Supaya kita tidak merasa sendiri, tetapi kita merasa satu, merasa bersama di dalam kehidupan ini,” tutupnya. [hen/beq]






