Magetan (beritajatim.com) – Sentra kulit di Jalan Sawo, Kelurahan Selosari, Magetan sempat mati suri sebelum mulai bangkit pada November 2021.
Dari 44 toko yang ada, hanya 20 toko yang masih buka dan bertahan selama hampir dua tahun seiring gempuran Covid-19. Perajin yang mampu bertahan hanya delapan orang, dari jumlah sebelumnya 14 perajin. “Ada pemilik yang meninggal karena Covid-19, karyawannya entah saat ini bagaimana nasibnya,” ungkap Budi Ridarwan Eko Patrianto, salah seorang perajin, Minggu (12/12/2021).
Eko pun mulai menceritakan kisah sedihnya saat gempuran pandemi membuatnya tersungkur habis-habisan. Sejak Maret 2020, dia merumahkan delapan karyawan di bagian produksi. Hanya karyawan bagian toko yang kini harus bekerja secara shift tiap minggunya.
Orderan yang minim, dia kerjakan sendirian. Sementara, untuk toko laku satu pasang sepatu dalam sehari sudah bagus. “Kami bertahan dengan keadaan itu sejak April 2020. Karena ada penutupan tempat wisata sekitar tiga bulan pada 2020 lalu,” terangnya.
Sebelum pandemi, produksinya bisa laku sekitar 150 pasang dalam satu minggu. Dari jumlah itu, omzet mancapai Rp 30 juta. Namun situasi berubah drastis seiring penerapan PPKM beberapa bulan lalu. Omzet terjun bebas. Yakni berkurang 100 kali lipat.
Seminggu hanya laku dua hingga tiga pasang sepatu. Peminat produksi kulit semakin lesu. Lantaran, sepatu bukan benda yang termasuk dalam kebutuhan primer maupun sekunder. “Dalam masa pandemi ini, banyak masyarakat yang memilih untuk membeli kebutuhan pokok,” katanya.
Namun demikian, Eko tidak patah arang. Dia tetap bertahan. Strategi altrnatif dijalankan. Eko nekat menawarkan dagangannya dari pintu ke pintu atau door to door. Bahkan, ke luar kota untuk menawarkan produk kulit.
Namun, karena adanya pembatasan, Eko bergerilya menawarkan produknya secara online. Meski, peminatnya juga masih kurang. Itu pun bukan semudah membalik telapak tangan. Karena banyaknya pesaing dari luar kota. Juga sulitnya mencari pasar. :Berbagai strategi sudah kami gunakan, dan kebanyakan perajin di sini tidak semuanya bisa memasarkan lewat online,” katanya.
[berita-terkait number=”5″ tag=”magetan”]
Terlepas dari itu semua, Eko mengapresiasi respons Pemkab Magetan yang mengucurkan bantuan untuk karyawan. Juga, untuk bantuan pinjaman modal yang digagas oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan. Meski kurang diminati oleh para pengusaha karena kondisi pasar yang tak memungkinkan. “Dengan kondisi seperti ini mana mungkin kami pesimis bisa mengembalikan pinjaman,” katanya.
Bagi Eko, bantuan pemasaran produk kulit melalui Dinas Komunikasi dan Informasi Magetan lebih dibutuhkan oleh perajin. Sebab, menembus berbagai pasar di luar kota merupakan hal yang tidak mudah. “Dengan bantuan tersebut, kami yakin para perajin yang tak bisa memasarkan lewat daring bisa terbantu. Karena tidak semua punya tenaga yang ahli bing teknologi informasi,” katanya.
Namun belakangan dia mulai tersenyum lega, angin segar untuk perajin mulai berhembus. Yakni, adanya pelonggaran kegiatan. Eko dan rekan-rekannya mulai menggenjot produksi. “Jika Magetan bisa maksimal dalam melakukan pencegahan (Covid-19), kami yakin tak akan ada lagi pembatasan-pembatasan yang berakibat pada lesunya ekonomi. Sekarang kami hanya ingin fokus dulu dalam pemulihan ekonomi,” pungkasnya. [fiq/suf]






