Lumajang (beritajatim.com) – Seorang penambang pasir di Dusun Sumbersari jalur Curah Koboan, Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Malang, Wibowo Agus Susanto, hanya bisa terdiam. Dengan wajah lesu, Wibowo memandangi lokasi tambang pasir yang terkubur lahar Semeru, Jumat (10/12/2021) siang.
Wibowo adalah warga Dusun Gumuk Mas, Desa Supiturang, Pronojiwo. Kedatangan Wibowo ke area tambang pasir Curah Koboan dan Sumbersari, untuk mengetahui keberadaan rekan kerjanya yang belum ditemukan lahar panas menerjang kawasan tersebut.
Sembari melihat ke arah bekas lahar, ia berharap, rekan kerjanya yang hilang saat bencana terjadi atas nama Heri Widianto, segera dapat ditemukan. “Yang menjadi korban yang belum ditemukan masih ada lagi, satu orang. Dia asli dari Kepanjen, Malang. Kerjanya sebagai supir truk,” kata Wibowo.
[berita-terkait number=”5″ tag=”erupsi-semeru”]
Wibowo menceritakan, sebelum erupsi Gunung Semeru terjadi, ia bersama delapan orang lainnya, termasuk Heri, tengah menambang pasir. Saat melihat tanda-tanda erupsi, para penambang pasir pun langsung berlarian menyelamatkan diri. “Saat kejadian itu masih menaikkan pasir. Saat kejadian ada 9 orang termasuk supirnya. Lalu yang 8 orang itu sempat lari. Tapi (Heri) diajak lari itu macam dia berat sama mobilnya itu,” ungkapnya.
Menurut Wibowo, ketika itu lokasi tambang pasir diterjang lahar, awan panas hingga abu vulkanik. Beruntung, delapan orang termasuk Wibowo berhasil selamat. “Kemarin itu banjir lava dan awan panas sangat besar. Kita satu menit saja terjebak di awan panas itu bisa meninggal. Karena langsung sesak napas kan akhirnya meninggal,” ujarnya.
Wibowo berharap teman kerjanya dapat segera ditemukan. Ia pun berharap lokasi tambang dapat segera pulih lantaran hanya itu sumber penghasilannya. “Perkiraan dalam 2-3 bulan, kalau bisa secepatnya. Kita kerjanya cuma itu, kerjanya cuma material itu,” bebernya.
Wibowo menambahkan, d lokasi tersebut ada tiga titik tambang pasir, yaitu Busareh, Label dan Herman. Dalam sehari, kurang lebih ada 200-300 truk yang datang ke tiga titik tambang di Sumbersari dan Curah Koboan.
“Yang paling besar yang atas dam ini, tambang Label namanya. Tapi yang banyak korban itu yang tambang yang bawah ini, Busareh. Dan yang paling atas tambang pasir Herman,” pungkas Wibowo. (yog/kun)






