Jombang (beritajatim.com) – Perjalanan Cabup (Calon Bupati) Jombang Warsubi dari satu pasar ke pasar lain mengukir banyak kisah. Blusukan tersebut bukan tanpa makna. Tapi mengajarkan banyak hal.
Seperti saat ke pasar tradisional, ia bisa melihat langsung kondisi masyarakat Jombang sekaligus mendengar aspirasi mereka. Bonusnya, ia bisa sekaligus memonitor infrastruktur hingga kelayakan pasar.
Matahari sedang terik-teriknya, Kamis (10/10/2024), ketika Warsubi beserta istri dan tim menyempatkan diri untuk mengunjungi Pasar Tapen Kecamatan Kudu. Itu dilakukan sebelum mereka menghadiri agenda Pasar rakyat Warsa yang kebetulan juga ditempatkan di Desa Tapen.
Di sudut jalan pasar, pandangan Warsubi tertumbuk pada seorang pria berusia senja yang menjajakan sayur. Pedagang itu berdandan sederhana. Berbaju batik lusuh, mengenakan sarung serta peci hitam. Dia duduk lesehan menunggui aneka sayuran yang beralas karung plastik.
Di sebelah sayuran tersebut, buah-buahan segar juga dijual. Harganya miring. Warsubi beserta istri menghampiri penjual yang sudah berusia senja itu. Warsubi sempat menanyakan kondisi si kakek, lalu bergegas memborong kangkung dan sawi yang dijajakannya.
Sementara sang istri, Yuliati Nugrahani, juga sigap memborong barang dagangan lain. Mulai buah sawo, ikan pindang hingga jahe. Pedagang tua itu tersenyum karena dagangannya diborong oleh mantan Kepala Desa (Kades) Mojokrapak Kecamatan Tembelang tiga periode tersebut. Dia tak henti berucap syukur.
“Saya ini kan dulu juga petani. Kondisi susah-susahnya saya juga mengalami. Kalau ke pasar tradisional begini banyak yang bisa saya pelajari,” kata pria yang maju Pilkada Jombang 2024 didampingi Cawabup KH Salmanudin Yazid atau Gus Salman ini.
“Jadi pemimpin kan harus melihat ke bawah. Bagaimana kondisi masyarakat saya? Bagaimana harga di pasaran? Fluktuatifnya itu masih bisa terjangkau masyarakat atau tidak? Itu kan semua bisa kita lihat dan pelajari kalau kita tahu kondisi di bawah,” sambungnya.
Warsubi juga meyakini dalam mewujudkan kebijakan, akan lebih dilakukan dengan melakukan perencanaan yang didasarkan dari aspirasi rakyat. “Dalam merumuskan kebijakan, aspirasi rakyat menjadi dasar pemikiran dalam perencanaan oleh pemerintah,” kata Warsubi.
“Rakyat atau masyarakat ini tidak boleh ditinggalkan dalam merumuskan program ataupun kebijakan. Karena mereka ini yang akan melaksanakan dan menerima manfaatnya,” lanjutnya lagi.
Dihadang Jalan Tambalan dan Berlubang

Di sepanjang jalan menuju pasar, Warsubi melihat banyak tambalan jalan, bahkan beberapa ada yang mulai berlubang. Padahal, menurut informasi dari masyarakat sekitar, jalanan itu belum ada setahun dibenahi.
“Ini contohnya. Infrastruktur jalan ini kalau kita nggak sering ke bawah melihat situasinya, kita nggak akan tahu apa yang butuh dibenahi. Apa yang butuh dibangun ulang. Kalau sering melihat kondisi, maka kebijakan yang diambil pasti didasarkan kebutuhan. Bukan di awang-awang,” ungkapnya.
Usai berkeliling pasar, Warsubi lalu ditawari oleh tim untuk mengendarai sepeda motor agar sampai di lokasi Pasar Rakyat Warsa. “Iya saya sudah lama nggak naik motor sama istri. Jadi naik motor saja. Lokasinya juga dekat dengan pasar,” ujarnya.
Suara sepeda motor bebek menderu. Warsubi memegang kemudi di depan, sedangkan sang istri dibonceng di belakang. Embusan angin yang bercampur hawa panas mengiringi pasangan suami istri ini. Meski kadang perjalanan roda dua yang mereka kendarai agak oleng akibat menghantam jalan berlubang.
Sampai di lokasi Cabup Warsubi disambut riuh masyarakat yang sudah berada di sana. Semua bergantian menyalami. Menyambutnya dengan salam dua jari sesuai dengan nomot urut pasangan WarSa di Pilkada Jombang 2024.
“Yang saya senang dari kampanye bersama pasar rakyat Warsa ini adalah, kegembiraannya, guyub rukunnya, serta banyak hal lain yang bisa kita pelajari,” pungkasnya. [suf]






