Bojonegoro (beritajatim.com) – Sejumlah perempuan mendatangi Mapolres Bojonegoro, Selasa (29/3/2022) siang. Mereka melaporkan seorang yang diduga membawa kabur uang arisan dan investasi senilai kurang lebih Rp5 miliar. Jumlah tersebut dari total sekitar 200 member yang ikut dalam arisan tersebut.
Salah seorang admin arisan dan investasi yang juga menjadi korban, Yesi Oktvia mengatakan, sistem arisan yang diterapkan menggunakan arisan menurun. Artinya, member yang sudah bergabung bisa mengambil nomor sesuai keinginan.
Selain itu, setiap member menyetor uang sesuai dengan kemampuannya. Semakin besar nominal yang dibayarkan maka bisa semakin besar perolehan yang didapatkan. Nominal yang diterapkan dalam arisan itu bervariasi, dari Rp10 juta hingga Rp50 juta.
“Untuk menjadi member pertama setor foto KTP. Kemudian dimasukkan ke dalam grup. Member juga membuat surat pernyataan diawal,” ujarnya yang mengaku baru dua bulan bergabung menjadi admin.
Admin sendiri menurutnya bertugas untuk mendata member baru dan member yang sudah membayar maupun yang mendapat arisan. Dia sendiri juga bergabung mengikuti arisan tersebut. Dia mengambil gate Rp10 juta dengan sistem dibayar bulanan.
“Saya mengambil 14 nomor, selama 1 tahun 2 bulan. Per bulan membayar Rp625 ribu. Setiap member berbeda-beda, ada yang membayar satu minggu sekali, 10 hari sekali dan satu bulan sekali,” terangnya.
Dia sendiri mengaku baru mendapat uang arisan Rp10 juta dari total yang seharusnya diterimanya sebanyak Rp40 juta. Selain baru mendapat uang arisan Rp10 jta, dia juga mengaku gaji bulanan sebagai admin juga sempat molor selama dua bulan.
“Pengelolaan uang itu saya tidak tahu, semua dipegang oleh Egga sendiri. Saya hanya mencentang member yang sudah membayar maupun yang mendapat aarisan,” terangnya.
Dia ikut datang bersama member lain ke Mapolres Bojonegoro dengan harapan uang yang sudah disetor untuk membayar arisan dan investasi itu bisa kembali.
Selain itu, pengelola yang diduga membawa kabur uangnya yakni, Egga Ayu Nawang Auliya asal Desa Sembung Kecamatan Parengan Kabupaten Tuban, yang berdomisili di Desa Ngampel Bojonegoro tersebut bisa segera ditemukan.
[berita-terkait number=”4″ tag=”bojonegoro”]
“Seharusnya tanggal 19 Maret kemarin sudah cair tapi Egga sudah tidak bisa dihubungi. 26 Maret 2022 itu sudah hilang dan semua kontak tidak bisa dihubungi dan di rumah juga tidak ada,” pungkasnya. [lus/but]






