Surabaya (beritajatim.com) – Fenomena demo anarkis yang belakangan marak melibatkan pelajar tingkat SMP dan SMA di Surabaya menjadi perhatian serius Dinas Pendidikan Jawa Timur (Dindik Jatim).
Menanggapi keresahan ini, Dindik Jatim menggandeng Polrestabes Surabaya untuk memperkuat benteng karakter murid melalui sosialisasi yang melibatkan ratusan kepala sekolah dan guru Bimbingan Konseling (BK).
Kegiatan sinergis ini digelar pada Kamis (18/9/2025), dipimpin langsung oleh Kepala Dindik Jatim, Aries Agung Paewai, bersama Kasat Binmas Polrestabes Surabaya, AKBP Diyana Suci Listiawati.
Forum tersebut dihadiri oleh 484 Kepala Sekolah dan guru BK dari berbagai jenjang SMP, SMA, dan SMK se-Kota Surabaya.
Dalam arahannya, Aries menekankan bahwa kasus kenakalan remaja, termasuk demo anarkis, harus ditangani dengan strategi yang komprehensif. Ia menyoroti pentingnya pendekatan preventif, kuratif, dan rehabilitatif agar sekolah tidak hanya bertindak setelah masalah terjadi.
“Kalau kita hanya menunggu murid membuat masalah, baru turun tangan, itu sudah terlambat. Maka pencegahan sejak dini adalah kunci,” tegas Aries, ditulis Jumat (19/9/2025).
Pencegahan yang dimaksud mencakup pemberian pemahaman hukum, kontrol emosi, hingga kesadaran sosial. Sementara itu, untuk kasus yang sudah terlanjur terjadi, penanganan harus segera dilakukan dan diikuti dengan pendampingan agar tidak berlanjut. Bahkan, menurutnya, bantuan rehabilitasi diperlukan bagi yang pernah terlibat agar dapat kembali ke jalur positif.
Lebih lanjut, Aries menegaskan bahwa pendidikan di sekolah tidak boleh berhenti pada target akademik semata, melainkan harus fokus menjadi ruang pembentukan karakter yang kokoh.
Ia menggarisbawahi peran kepala sekolah yang kini dituntut tak hanya sebagai administrator, tetapi juga sebagai pemimpin, pengelola, penggerak (motivator), dan inovator yang mampu menciptakan budaya sekolah kondusif.
Di sisi lain, guru BK diharapkan memainkan peran vital sebagai konselor untuk mendeteksi dan menangani setiap permasalahan murid sejak dini, baik secara individu maupun kelompok.
Senada, AKBP Diyana Suci Listiawati dalam sosialisasinya juga menegaskan bahwa penguatan karakter perlu ditopang dengan kehadiran figur pendamping yang konsisten, baik dari guru maupun orang tua.
“Murid-murid kita butuh teladan. Mereka harus diajak berpikir kritis, berperilaku disiplin, dan menjauhi segala bentuk kenakalan remaja,” jelas Diyana.
Polrestabes Surabaya menyatakan kesiapan untuk membuka ruang kolaborasi yang lebih luas, termasuk melalui program pendampingan, penyuluhan hukum, dan patroli edukatif di sekitar lingkungan sekolah.
Hal ini disambut baik oleh para peserta, mengingat tantangan yang dihadapi sekolah saat ini cukup kompleks, mulai dari pengaruh pergaulan bebas hingga tekanan media sosial.
Tantangan pendidikan saat ini tidak bisa dihadapi sendirian. Diperlukan kerja sama lintas sektor, antara sekolah, keluarga, masyarakat, hingga aparat keamanan. Sinergi ini bukan hanya solusi jangka pendek, tapi investasi jangka panjang bagi masa depan bangsa.
Dengan begitu, diharapkan akan terbangun kesadaran kolektif untuk menyiapkan generasi muda yang matang secara emosional dan bijak dalam bersikap. [ipl/kun]






