Kadang, jembatan antara dua pihak yang bertikai tidak selalu dibangun di ruang negosiasi megah, tetapi dari aroma wajan dan tawa yang bersatu di meja kedai makanan.
Sejak lama, China dan Taiwan hidup dalam bayang-bayang pertengkaran yang tak kunjung usai, dua wilayah yang bertaut sejarah, bahasa, dan darah, namun terpisah oleh tafsir tentang kebenaran dan kedaulatan.
Taiwan adalah isu lama dalam tubuh China, kerikil di sepatu, bahkan duri dalam daging yang belum tercabut. Sejak perang saudara pertengahan abad lalu, hubungan keduanya tak pernah benar-benar pulih.
Kini, ketika China menjelma kekuatan global dan Amerika Serikat, pelindung utama Taiwan, kian keras berhadapan dengan Beijing, luka lama itu kembali terbuka.
Ketegangan mereka memang tidak selalu tampak di permukaan, tetapi terasa dalam setiap wacana politik, setiap pidato resmi, bahkan dalam cara media melaporkan berita lintas selat ini.
Menariknya, ketika kata-kata gagal menjembatani konflik di ruang konferensi, pemahaman justru lahir di tempat yang tak disangka: di kedai makan. Di sanalah rasa menjadi diplomasi dan keakraban mengambil alih bahasa politik.
Satu sendok hidangan, satu gelas teh hangat, mampu menembus batas yang tak bisa ditembus pidato resmi. Di meja makan itu, manusia belajar membaca satu sama lain tanpa kata, melalui aroma, rasa, dan kehangatan yang nyata.
Di Fuzhou, ibu kota Fujian, kontras itu tampak jelas. Di tengah hubungan lintas selat yang tegang, ketika kata “Taiwan” dapat memicu sensitivitas politik, dua blok panjang kedai-kedai makanan bertuliskan The Taste of Taiwan berdiri tanpa kontroversi.
Aroma minyak wijen, kuah panas, dan bumbu khas mengundang orang berbaris, menunggu giliran, tertawa, dan mencicip, seolah nama itu tak membawa beban sejarah apa pun. Bahkan mungkin tak seorang pun merasa sedang berhadapan dengan politik.
Namun di sanalah, di antara sendok, piring, dan rasa, diplomasi berlangsung dalam senyap, menyelinap lewat uap dapur dan antusiasme manusia. Di kedai-kedai ini, politik dan budaya bertemu tanpa deklarasi resmi, hanya melalui pengalaman yang sederhana dan akrab.
Fujian, provinsi di seberang Selat Taiwan, memiliki hubungan darah dan sejarah panjang dengan pulau itu. Banyak leluhur orang Taiwan berasal dari pesisir Fujian. Bahasa, dialek, dan cara memasak masyarakat kedua belah pihak pun nyaris serupa, sehingga kedekatan itu menjadi modal bagi komunikasi budaya yang sulit dijembatani oleh pidato diplomatik.
Taiwan memanfaatkan sejarah dan asal-usul ini sebagai instrumen halus untuk hadir kembali di ruang sosial dan psikologis China daratan. Melalui makanan, Taiwan tampil bukan sebagai “yang lain,” melainkan sebagai sesuatu yang akrab. Kota Fuzhou, di antara daratan dan pulau, menjadi jembatan rasa yang menghubungkan dua sejarah yang rumit dan penuh luka lama.
Dari berbagai catatan, The Taste of Taiwan di Fuzhou bukanlah hasil inisiatif tunggal, apalagi proyek resmi pemerintah. Ia muncul dari gabungan pedagang kecil Taiwan-Fujian, komunitas migran, serta dukungan lokal yang berlapis: sebagian nostalgia, sebagian peluang ekonomi, sebagian keinginan sederhana untuk berbagi rasa.
Fenomena ini menunjukkan bahwa awal gastrodiplomasi tak selalu digerakkan oleh negara. Ia bisa tumbuh secara bottom-up, ketika rasa menjadi bahasa universal yang tak butuh izin siapa pun. Masyarakat, bukan diplomat, yang lebih dulu membangun jembatan itu. Dan menariknya, jembatan yang tumbuh dari bawah ini bisa jadi justru lebih kuat daripada yang dibangun dari meja perundingan.
Di Fuzhou, diplomasi tidak selalu memerlukan jas dan dasi. Ia berpakaian sederhana: celemek, wajan, spatula, dan senyum penjual makanan. Ia tidak membutuhkan dokumen corps diplomatique, hanya lidah yang mau mencicip. Di antara kepulan asap dan denting sendok, “diplomasi rasa” bekerja dengan ritmenya sendiri, pelan, menghangat, dan sering kali lebih efektif daripada puluhan meja perundingan.
Baik langsung atau tidak, Taiwan “memanfaatkan” kehangatan ini untuk membangun citra yang ramah dan mudah dicintai, meski tanpa selalu mengirim “duta” modern seperti restoran global mereka. Sementara itu, China pun tampaknya mengerti bahwa melarang sesuatu justru membuatnya lebih menggoda.
Maka yang dilakukannya bukan menolak, melainkan membiarkan. Bahkan di Fujian, rasa Taiwan diterima, seolah ingin berkata, “Kita sebenarnya sama, Taiwan bukan asing, ia bagian dari keluarga besar Tionghoa.” Dengan cara ini, perbedaan diubah menjadi keakraban, sebuah langkah “soft unification” yang dirayakan lewat budaya, kebiasaan sehari-hari, dan pengalaman manusiawi yang sederhana.
Setiap pelanggan yang menikmati hidangan Taiwan tanpa berpikir tentang politik sesungguhnya sedang mempraktikkan bentuk perdamaian yang paling jujur: keakraban. Setiap gerai The Taste of Taiwan adalah pengingat bahwa perbedaan tidak selalu “harus diselesaikan,” cukup dihayati bersama.
Dalam konteks ini, Taiwan mungkin menang dalam membangun soft power melalui budaya yang akrab, China menang dalam menjaga narasi, dan publik menang karena menemukan ruang di mana politik dapat “beristirahat” sejenak di antara aroma makanan dan gelak tawa.
Tulisan ini tentu tidak sedang meniadakan peran pejabat di Beijing atau Taipei dalam menjaga hubungan lintas selat. Namun dapur-dapur kecil di kota seperti Fuzhou tak bisa diabaikan dalam upaya membangun kembali jembatan yang lama terbakar oleh politik.
Di sanalah dua pihak yang saling mencurigai mulai tersambung kembali, meski hanya sejenak, melalui rasa. Ketika rasa melebur, politik sering kali ikut melunak; pelan, tanpa paksaan.
Barangkali generasi muda di Fuzhou nanti akan mengenal Taiwan bukan dari berita konflik, melainkan dari semangkuk oyster omelette yang disantap di malam hari. Mereka mungkin tak memikirkan batas negara, hanya kenangan tentang rasa yang sama, yakni tentang sesuatu yang akrab dan menghangatkan.
Jadi, siapa yang benar-benar menang? Mungkin tidak ada. Atau, barangkali yang menang hanyalah rasa itu sendiri, yang mampu menembus batas dan menyatukan yang retak, tanpa perlu perintah atau kesepakatan. Politik mungkin bisa membangun dinding, tapi tidak bisa menahan aroma.
Rasa akan selalu menemukan jalannya sendiri lewat udara, lewat kenangan, dan lewat lidah manusia. Sebab rasa adalah surat tanpa kata yang bisa dibaca siapa saja, tanpa paspor, tanpa izin, tanpa curiga.
Di Fuzhou, Fujian, di antara uap dapur dan tawa pengunjung, China dan Taiwan bertemu di kedai kaki lima makanan.
Pelajarannya sederhana namun mendalam: kadang satu suapan yang tulus lebih efektif daripada pidato. Rasa mengajarkan bahwa manusia bisa berbagi sesuatu bahkan sebelum mereka sepakat tentang segalanya. [@]
Agus Trihartono, Dosen dan ilmuwan gastrodiplomasi FISIP Universitas Jember. Rektor Universitas Islam Cordoba, Banyuwangi.






