Meninggal dunia di usia lebih dari 100 tahun. Menjadi Presiden Amerika Serikat (AS) dengan usia paling panjang. Sempat pula menyabet Nobel Perdamaian 2002. Dia pun tercatat sebagai mantan Presiden AS dengan prestasi terbaik. Itulah James Earl Carter, Jr, yang populer dengan sebutan Jimmy Carter, Presiden AS ke-39 yang menjabat pada 1977 hingga 1981.
Pada 29 Desember 2024 lalu, Carter meninggal dunia. Dia lahir pada 24 Oktober 1924. Wafat di usia 100 tahun lebih 2 bulan 5 hari. Carter sebelum memangku jabatan sebagai orang pertama AS sempat menduduki kursi Senat Georgia dan jadi Gubernur Georgia. Politikus Partai Demokrat AS ini kalah dalam Pemilihan Umum Presiden (Pilpres) pada 1981 atas Ronald Reagen, lawannya dari Partai Republik.
Revolusi Islam Iran dengan tokoh sentral Ayatullah Rohullah Khomeini yang berujung pada krisis penyanderaan diplomat AS di Kedubes negara adidaya ini di Teheran selama 445 hari jadi salah satu critical point ketidakterpilihan Carter di Pilpres AS 1981.
Tak berselang lama pasca kekalahannya di kontestasi politik AS itu, Carter pulang ke kampung halamannya di Plains, Georgia. Dia kembali beraktivitas sebagai petani kacang.
Sejumlah legacy penting ditorehkan Carter saat menjabat Presiden AS. Satu di antara yang fenomenal adalah, dia jadi pemrakarsa dan mediator perjanjian damai Mesir versus Israel. Perjanjian Camp David antara Presiden Anwar Sadat dan Perdana Menteri Israel Menachem Begin tak bisa dilepaskan dari jerih payah dan kerja keras Carter. Perjanjian damai itu diteken di Komplek Gedung Putih Washington pada 26 Maret 1979.
Tak sekadar sebagai pensiunan Presiden AS yang pasif dan sekadar ‘penonton’ dinamika politik dan ekonomi global, umur panjang Carter memungkinkan dia jadi pelaku sejarah penting dan krusial.
Carter berbuat dan menyaksikan lensa sejarah lebih panjang dan merefleksikan lebih positif atas warisan yang ditinggalkannya. “Saat menjabat, dia adalah seorang yang gagal secara politik. Dia kalah telak dari Ronald Reagan. Namun, dia sukses secara substantif dan visioner,” kata penulis dan sejarawan Jonathan Alter, yang mengakui bahwa banyak orang mengenal Carter saat ini dengan pekerjaan kemanusiaan bersama Carter Center-nya.
Jimmy Carter tercatat sebagai mantan Presiden AS paling sukses dan terbaik. Justru setelah dia meninggalkan Gedung Putih, kiprah internasionalnya makin moncer dan diakui banyak pemimpin dunia.
Carter menggelorakan pentingnya perdamaian dunia di tengah dinamisnya perlombaan senjata antarblok politik dan militer yang berseberangan. Dia aktif memerangi penyakit dan membangun harapan di banyak negara di seluruh dunia.
Carter Center, organisasi nirlaba yang didirikannya, konsen pada usaha-usaha mewujudkan perdamaian dunia, mempromosikan kesejahteraan warga dunia, memperkuat demokratisasi di banyak negara berkembang, memerangi penyakit yang jadi endemi dan pandemi tingkat global, memperjuangkan dan memperkuat implementasi HAM di banyak negara berkembang, memerangi penyakit Cacing Guinea, yang jumlahnya tinggal sedikit di Afrika dan bisa menjadi penyakit kedua yang berhasil diberantas, dan aktivitas positif lain telah menghantarkan Carter meraih Nobel Perdamaian 2002.
Tanpa otoritas dan policy formal yang digenggamnya sebagai Presiden AS, ternyata Carter punya kapasitas, kredibilitas, jejaring, dan kepercayaan tinggi untuk mewujudkan ekspektasi dan cita ideal yang digagas lembaga nirlaba yang dia pimpin.
“Carter melakukan pekerjaan yang luar biasa dalam mengawasi pemilihan umum di lebih dari 100 negara,” tambah sejarawan Jonathan Alter.
Carter seorang mantan presiden AS yang tak memiliki kekuasaan sebesar presiden, bahkan hampir tidak ada. Daftar prestasinya sebagai presiden diabaikan, dikecilkan, atau dilupakan sama sekali.
Prestasi politik dan ekonomi Carter yang menonjol selama jabat Presiden AS tertutupi kasus krisis Iran, setahun setelah Revolusi Islam 1979. Penyanderaan diplomat berikut staf Kedubes AS di Teheran selama 445 hari menafikan kinerja politik Carter dalam membuka dan memperkuat hubungan AS dengan China.
Selain itu, policy-nya di bidang lingkungan hidup berdampak panjang pada upaya pelestarian dan keselamatan lingkungan hidup AS di tengah dinamika pertumbuhan ekonomi negara itu yang terus melaju dan berkelanjutan.
Saat menjabat Presiden AS, Carter menandatangani Undang-Undang Konservasi Lahan Kepentingan Nasional Alaska tahun 1980. Policy ini melindungi lebih dari 100 juta hektar, termasuk tanah, taman nasional, tempat perlindungan, monumen, hutan, dan kawasan konservasi.
Krisis Iran pecah setelah Revolusi Islam 1979 menjadikan masa-masa paling sulit bagi Carter sebagai pemegang otoritas tertinggi di Gedung Putih. Iran semula sahabat terdekat AS di Timur Tengah. Revolusi Islam pecah, rezim politik lama tumbang, rezim politik baru yang dipandegani para Mullah populis tampil di panggung politik Iran.
Peta relasi internasional Iran berbalik 180 derajat dengan AS. Semula sahabat baik, berubah jadi musuh bebuyutan hingga sekarang. Di awal-awal krisis Iran ini berlangsung merupakan tempo sangat sulit, karena harus menghadapi keadaan yang jauh di luar kendali Carter.
Carter jadi korban atas kondisi sangat sulit yang mesti ditangani Presiden AS. Dia sempat gagal. Dikalahkan Ronald Reagen di Pilpres AS 1981. Melalui Carter Center, mantan Gubernur Georgia ini bangkit kembali dan jadi mantan presiden AS yang terbaik.
Selama menjabat, Carter yang lahir di kota pertanian kecil, Plains, Georgia, pada 1 Oktober 1924, dianggap naif dan lemah dalam dunia politik Washington yang kejam. Bahkan, di dalam partainya sendiri, Demokrat, Carter menjadi semacam persona non grata untuk waktu lama. (Kompas, 31 Desember 2024)
Seiring dengan berjalannya waktu, citra Carter yang lebih bernuansa dan berkualitas muncul. Dia jadi perantara kesepakatan damai antara Mesir dan Israel. Dia menempatkan komitmen terhadap HAM dan keadilan sosial sebagai inti masa jabatannya sebagai Presiden ke-39 Amerika Serikat
Dedikasi itu yang kemudian menjadi landasan The Carter Center pada 1982, lembaga donor yang didirikan Carter setahun setelah kekalahannya atas Ronald Reagen dari Partai Republik. Carter Center dibangun untuk mengejar dan mewujudkan visinya tentang diplomasi dunia.
Dengan kendaraan The Carter Center, Carter turut membantu meredakan ketegangan nuklir di Korea Utara dan Korea Selatan, membantu mencegah Amerika Serikat ke Haiti, serta merundingkan gencatan senjata di Bosnia dan Sudan. Karena perannya di dunia diplomasi global, Carter diganjar Nobel Perdamaian 2002. (Kompas, 31 Desember 2024)
Itulah Jimmy Carter, mantan Presiden AS yang mengakhiri masa jabatannya pada 1981, 44 tahun lalu. Kerja-kerja politiknya digerakkan oleh visi dan misinya yang jelas dan tegas: Perdamaian dunia, penghentian perlombaan senjata, promosi kesejahteraan warga dunia, demokratisasi politik-pemerintahan di negara-negara Dunia Ketiga, pemberantasan penyakit endemi dan pandemi di level global, penguatan dan kelestarian lingkungan hidup, dan masih banyak lagi.
Semua visi dan cita ideal itu diperjuangkan dalam aplikasi kerja-kerja politiknya secara riil, konsisten, dan berkelanjutan di AS dan banyak negara lain. Politik praktis bagi Carter diabdikan dan dimanifestasikan dalam visi besarnya untuk diwujudkan secara faktual, baik via jalur kekuasaan struktural formal dan diplomasi nonstruktural tanpa embel-embel kekuasaan politik formal.
Jimmy Carter setelah lengser keprabon pada 1981, kembali ke kampung halamannya di Plains, Georgia, AS. Dia tak mau direpotkan dengan kerja-kerja politik praktis kontestasi politik di negaranya. Dia tak terlibat dalam Pilgub Georgia dan banyak negara bagian lain di sistem pemerintahan AS. Apalagi kerja politik meng-endorse anak, istri, saudara, famili, kerabat dekat, dan pihak lain yang berbau nepotisme.

Kerja politiknya diletakkan pada pijakan yang kuat, visioner, berkelanjutan, dan berjangkauan global. Kerja politik Carter bukan ikhtiar praktis untuk merebut jabatan publik di AS dan banyak negara bagian di Negeri Paman Sam tersebut.
Karena itu, karakter dan kerja politik Carter bisa jadi merupakan antitesa bagi pensiunan presiden di banyak negara lain, terutama negara-negara berkembang. Di mana pensiunan presiden di banyak negara berkembang masih disibukkan kerja-kerja politik bersifat jangka pendek berkait dengan politik kontestasi.
Para mantan presiden di negara berkembang itu lebih memprioritaskan keberlanjutan kekuasaan yang bersandar pada garis nasab dia, meng-endorse klien politik yang satu gerbong, dan lainnya. Tak ada nilai-nilai visi dan misi politik yang kuat, visioner, dan berkelanjutan yang tak lekang dimakan zaman. Bagi mantan presiden ini, kekuasaan politik itu kursi jabatan dan berbagai privilege luar biasa yang melekat di dalamnya.
Ainur Rohim,
Direktur Utama dan Penanggung Jawab beritajatim.com






