Surabaya (beritajatim.com) – Mengabarkan berita duka adalah hal yang baik. Terlebih jika kabar tersebut bisa sampai ke orang-orang yang kenal, dekat, atau pernah memiliki hubungan dengan mereka yang meninggal.
Namun, seperti yang sering kita temui belakangan ini di berbagai media, tidak semua orang menyampaikan berita duka dengan cara yang tepat. Bahkan, ada yang dengan tega mengungkit aib dan kesalahan-kesalahan almarhum semasa masih hidup.
Tentu itu bukan hal yang tepat. Lebih-lebih jika keluarga yang ditinggalkan kemudian membaca atau melihat berita tersebut. Pasti akan membuat hati dan perasaan mereka makin sakit.
Jangan sebarkan foto dan video mengenaskan
Maka dari itu, penting bagi kita untuk mengetahui cara dan etika menyampaikan berita duka. Salah satunya, gunakan foto atau video yang tepat. Jika almarhum meniggal akibat sakit di rumah sakit atau karena kecelakaan.
Jangan sebarkan foto atau video ketika almarhum berada di rumah sakit dengan kondisi mengenaskan. Begitu juga dengan kecelakaan, jangan sebarkan foto ketika almarhum tergeletak di jalan atau ketika bersimbah darah. Hal ini demi menjaga perasaan keluarga. Sebab, jika disebrakan bisa membuat keluarga megnalami trauma dan kesedihan berkelanjutan.
Hindari menyebarkan aib
Ketika mendengar kabar ada seseorang meninggal, secara otomatis ingatan kita akan diajak menelusuri pengalaman dan kenangan kita tentang almarhum. Itu jika orang yang meninggal adalah teman, keluarga atau sebatas kenal karena ia terkenal.
Jika ada aib atau kesalahan yang kita tau tentang almarhum, sebisa mungkin jangan dikabarkan saat itu juga. Bahkan, jika aib tersebut memang pernah dilakukan dan sudah diketahui banyak orang karena masuk pemberitaan.
Sebab, di masa duka yang harus kita lakukan adalah memberikan dukungan pada keluarga yagn ditinggalkan dan menghormati mereka yang meninggal, bukan sebaliknya. Menyebarkan aib yang bisa membuat keluarga malu dan tambah terpukul.
Janga berkomentar negatif
Bahkan, meski kita tahu yang meninggal memilikisalah, jangan buru-buru menghujat keluarga. Tahan untuk tidak memberi komentar negatif. Meski itu berhubungan dengan terjadinya tragedi yang membuat korban meninggal.
Tentu saja, ini tidak dapat dibenarkan karena akan mengeksploitasi korban dan keluarga sehingga perasaan mereka bisa menjadi lebih buruk. Maka dari itu, kita perlu menghindari dalam menyebarkan konten-konten atau berspekulasi tentang perasaan dan firasat sebelum kejadian.
Selain itu, warganet media arus utama kadangkala tak luput dari kesedihan. Pemberitaan masif yang tidak etis ini terkadang menunjukkan kurang empati yang dimiliki. Selain it, tentu ada perasaan keluarga maupun hak pribadi korban yang dilanggar dengan eksploitasi konten. [prd/tur]






