Bojonegoro (beritajatim.com) – Meningkatnya kembali kasus penyakit mulut dan kuku (PMK) belakangan ditengarai karena capaian vaksinasi hewan ternak masih jauh dari target yang ditentukan. Secara nasional capaian vaksinasi ternak saat ini baru mencapai 20 persen dari target 80 persen, Jumat (27/01/2023).
“Herd immunity (kekebalan kelompok) bisa dicapai paling tidak vaksinasi tahap pertama sudah mendekati 80 persen. Capaian vaksinasi secara nasional saat ini baru sekitar 20 persen,” ujar Waka Kordalops Satgas PMK Nasional, Brigadir Jenderal Polisi Ary Laksmana Widjaja.
Menurut Ary Laksmana saat rapat koordinasi Penanganan PMK di Provinsi Sumatera Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Sulawesi Selatan, Rabu (25/01/2023), tugas yang menjadi pekerjaan rumah saat ini adalah mengoptimalkan vaksinasi. “Akan difokuskan pada kelompok ternak yang rentan terpapar PMK,” katanya.
Peningkatan kasus di Kabupaten Bojonegoro ini kemungkinan karena adanya lalu lintas ternak dari berbagai daerah. Kasus PMK, lanjut dia, akan terus meluas jika adanya lalu lintas ternak ini kemudian bukan untuk dipotong. “Maka ini yang berbahaya. Pasar hewan juga harus dilakukan buka tutup untuk menekan penyebaran,” lanjutnya.
[berita-terkait number=”5″ tag=”penyakit-PMK”]
Sementara Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana sekaligus Ketua Satuan Tugas Penanganan Penyakit Mulut dan Kuku (Satgas PMK), Letnan Jenderal Suharyanto berpesan untuk mempercepat vaksinasi PMK dengan menetapkan 80 persen target populasi telah tervaksin 1 kali dalam waktu yang terukur.
Kemudian, memperketat pelaksanaan kegiatan biosekuriti dengan melibatkan unsur-unsur terkait seperti TNI dan Polri. Melakukan pengobatan sebagai prioritas utama dibandingkan pemotongan bersyarat, baik dengan obat pengadaan dari pemerintah maupun swasta.
Melakukan pencatatan dan pelaporan kasus dengan baik serta menjaga keakuratan data dan informasi. Serta meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit hewan lainnya seperti Lumpy Skin Disease (LSD) agar penyebaran tidak semakin meluas, serta mulai melakukan vaksinasi LSD.
Sementara Kepala Dinas Peternakan Jawa Timur Indyah Aryani mengungkapkan, upaya pencegahan penyebaran penyakit dengan melaksanakan monitoring, surveilans, pengobatan dan biosecurity kandang dan pasar hewan di wilayah Kabupaten Bojonegoro yang berbatasan langsung dengan Jawa Tengah.
Seperti diketahui beberapa Kabupaten di Jawa Tengah yang berbatasan dengan Jawa Timur pada satu bulan terakhir terjadi lonjakan kasus PMK yang berpotensi menularkan ke Jawa Timur. “Untuk itu dipandang perlu dilakukan kegiatan monitoring, investigasi dan surveillans di Kabupaten Bojonegoro yang merupakan wilayah perbatasan dengan Jawa Tengah,” ujarnya.
Kegiatan yang dilakukan berupa pengambilan sampel darah dan swab oleh tim Laboratorium Keswan Dinas Peternakan Jawa Timur di Tuban, bersama dengan Tim Pusvetma dan BBVet Wates. sampel tersebut akan dikirimkan dan diujikan di BBVet Wates Jogjakarta dan Pusvetma yang merupakan Laboratorium rujukan untuk Penyakit PMK.
Dismaping itu juga telah dilaksanakan pengobatan ternak sakit dan penerapan biosecurity kandang, lingkungan sekitar kendang, serta pasar hewan stategis yang merupakan pusat penjualan ternak sapi di Kabupaten Bojonegoro seperti Pasar Hewan Kecamatan Balen, Pasar Hewan Kecamatan Padangan dan Pasar Hewan Kecamatan Sumberrejo. [lus/kun]






