Nganjuk (beritajatim.com)– Baru baru ini media sosial (medsos) dibuat ramai dengan adanya potongan tayangan salah satu Cabup Nganjuk yakni Ita Triwibawati atau yang akrab disapa Bunda Ita. Pasalnya dalam Debat Publik Pertama yang diselenggarakan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) Bunda Ita secara tidak sadar salah sebut.
Dalam potongan video yang viral di medsos, Bunda Ita diberikan pertanyaan terkait bagaimana strategi menjaga stabilitas Harga pangan agar tidak memberatkan petani dan sekaligus melindungi konsumen dari kenaikan Harga yang tidak wajar. Dalam pertanyaan ini Bunda Ita hanya diberikan Waktu satu menit untuk menjawab.
Ia pun kemudian menjawab dengan sedikit terbata-bata.
Terimakasih saya akan mencoba menjawab bagaimana menjaga stabilitas harga pertanian di Kabupaten Nganjuk, pertama saya akan buat MoU dengan Bulog seagai penjamin panen…. panen hasil panen dan kedua saya akan membuat ee aapa MoU dengan pelaku usaha tani sebagai juga penjamim dan yang ketiga saya akan membuat produk baru seoerti brambang kita buat brambang goreng dan sebagaiya, beras akan kita buat… padi menjadi beras saya kira itu…
Sontak potongan video ini menjadi viral di medsos. Netizen mulai berkomentar aneh aneh dan mulai mencari tahu siapa sebenarnya Ita Triwibawati ini.
Atas ramainya medsos, melalui akun Facebook pribadi Ita Triwibawati kemudian memberikan klarifikasi sebagai berikut:
“Sedang ramai di medsos perihal statement saya di debat kemarin, Jadi mohon izin untuk saya menjelaskan maksud dari statement saya. Pertanyaan dalam debat terkait strategi untuk menjaga stabilitas harga pangan agar tidak memberatkan petani sekaligus melindungi konsumen dari kenaikan harga yang tidak wajar, yang salah satu penyebabnya karena ulah tengkulak nakal,” tulisnya.
“Selama ini masyarakat kita terbiasa menjual padi dalam bentuk gabah, yang kemudian diproses di luar daerah untuk menjadi beras. Namun, kita memiliki peluang besar dengan memaksimalkan produksi padi lokal menjadi produk beras unggulan daerah,” jelasnya.
Ia pun kemudian menjelaskan mengenai Langkah inovatif yang dimaksud.
“Langkah inovatif ini punya banyak manfaat. Pertama, petani akan mendapatkan harga yang lebih baik karena produk yang dijual memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi dibandingkan gabah. Kedua, dengan menjaga produksi dan distribusi beras di wilayah sendiri, kita bisa mencapai swasembada pangan yg menjadi salah satu indikator ketahanan pangan dan kemandirian ekonomi suatu daerah,” tambah Ita.
Tak hanya penjelasan soal inovasi, Ita juga menjelaskan mengenai komodir dan fasilitas lain untuk para petani jika dirinya berhasil menjadi Bupati Nganjuk.
“Pemerintah akan hadir secara nyata untuk mengakomodir pembentukan dan memfasilitasi Gabungan Kelompok Tani (GAPOKTAN) di setiap desa di Nganjuk. GAPOKTAN ini nantinya akan menjadi wadah bagi para petani untuk menghimpun padi, yang kemudian diolah menjadi beras berkualitas tinggi. Langkah ini bukan hanya untuk meningkatkan kesejahteraan petani, tetapi juga sebagai upaya mencegah praktik tengkulak nakal dan mafia beras yang sering merugikan petani maupun konsumen. Dengan adanya GAPOKTAN yg memproduksi beras lokal, kita pastikan hasil jerih payah petani dihargai dengan layak dan konsumen mendapatkan beras berkualitas dengan harga yang wajar,” papar Ita.
Ia kemudian membandingkan Nganjuk dengan daerah lain yang sudah berhasil mengolah padi menjadi beras siap konsumsi.
“Banyak daerah lain sudah membuktikan keberhasilan mereka dalam mengolah padi menjadi beras siap konsumsi, dan kita dapat belajar dari pengalaman mereka. Dengan mengolah padi langsung menjadi beras di wilayah kita sendiri, kita tidak hanya menambah nilai ekonomi hasil pertanian, tetapi juga menciptakan rantai ekonomi baru. Semua pihak akan ikut terlibat, termasuk para tukang selep yang berperan penting dalam proses pengolahan. Kolaborasi ini akan memperkuat perekonomian lokal dan memastikan hasil panen petani dapat diolah dengan baik di daerah sendiri, sehingga manfaatnya dirasakan lebih luas oleh seluruh masyarakat,” tutupnya.
Ita Triwibawati maju Pilkada Nganjuk berpasangan dengan Juli Rantauwati dengan partai pengusung NasDem dan Hanura. [aje]






