Bojonegoro (beritajatim.com) – Calon Bupati (Cabup) Bojonegoro nomor urut 02, Setyo Wahono, bersama istrinya, Cantika Wahono, melakukan kunjungan ke Pasar Desa Ngasem, Kecamatan Ngasem, pada Senin (7/10/2024), dalam rangka kampanye Pilkada Bojonegoro.
Setyo Wahono, yang merupakan profesional muda asal Desa Dolokgede, Kecamatan Tambakrejo, Kabupaten Bojonegoro hadir bersama ratusan simpatisannya. Ia bertemu dengan para pedagang untuk mendengarkan dan menjaring aspirasi mereka secara langsung.
Salah satu pedagang emas, Evita, menyampaikan keinginannya agar pasar diperbaiki dan ditata lebih baik, sehingga dapat menciptakan suasana yang aman dan nyaman bagi pedagang maupun pengunjung.
“Jika pasar tertata rapi dan bagus, tentu akan banyak pengunjung yang datang,” harap Evita.
Pedagang baju, Masrum, juga mengutarakan harapannya agar fasilitas pasar diperbaiki dan ditingkatkan. Menurutnya, semakin ramai pengunjung, semakin besar manfaat yang dirasakan oleh pedagang. “Jika pasar ramai pengunjung, ini tentu akan membawa berkah bagi kami para pedagang,” ucapnya.
Merespon hal itu, Setyo Wahono berjanji akan memperbaiki dan menata pasar-pasar tradisional yang belum memadai, serta membangun pasar-pasar baru untuk mendukung perekonomian pedesaan. “Hal itu agar dapat menggerakkan ekonomi masyarakat desa,” ujar Setyo Wahono.
Calon bupati yang berpasangan dengan Cawabup Nurul Azizah itu menambahkan, perbaikan pasar tradisional ini bertujuan untuk meningkatkan perekonomian masyarakat desa. Pasar tradisional akan menjadi tempat bagi masyarakat untuk menjual hasil pertanian, perkebunan, serta produk-produk usaha lainnya.
“Saya bersama Ibu Nurul berkomitmen untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, termasuk pedagang pasar, jika kami diberi amanah untuk memimpin Bojonegoro selama lima tahun ke depan,” tegasnya.
Mas Wahono, sapaan akrabnya, juga memaparkan sejumlah program unggulan yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Salah satunya adalah program bantuan usaha pemberdayaan perempuan produktif serta bantuan pengembangan industri kecil menengah (IKM) sebesar Rp1 miliar untuk setiap desa/kelurahan.
“Bantuan modal usaha ini diharapkan memudahkan masyarakat dalam menciptakan produk-produk usaha baru. Dengan demikian, pasar tradisional akan memiliki jenis dagangan yang lebih beragam dan menarik lebih banyak pengunjung,” tutupnya. [lus/beq]






