Mojokerto (beritajatim.com) – Bupati Mojokerto Muhammad Al Barra memastikan jumlah korban keracunan massal yang diduga berasal dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) mencapai 411 orang.
Dari jumlah tersebut, 334 pasien telah dipulangkan, sementara 77 orang masih menjalani perawatan di sejumlah fasilitas kesehatan.
“Totalnya 411 pasien, 334 sudah pulang, 77 pasien masih dirawat. Artinya jumlah pastinya dari Dinas Kesehatan adalah 411 orang,” ungkap Gus Barra (sapaan akrab, red) usai mendampingi Menteri Hak Asasi Manusia (HAK) RI, Natalius Pigai di RSUD Prof dr Soekandar, Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto, Rabu (14/1/2026).
Sebanyak 411 orang tersebut terdiri dari pelajar, santri, dan orang dewasa. Pernyataan tersebut sekaligus meluruskan data sebelumnya yang disampaikan Sekretaris Daerah Kabupaten (Sekdakab) Mojokerto Teguh Gunarko yang merilis jumlah korban sebanyak 433 orang.
Dengan rincian 293 korban sudah dipulangkan, 25 menjalani rawat jalan, dan 140 masih dirawat inap.
Gus Barra menegaskan seluruh korban dipastikan mengalami keracunan setelah mengonsumsi Program MBG menu soto ayam yang disuplai oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi [)(SPPG) Yayasan Bina Bangsa Semarang 03 di lingkungan Pondok Pesantren Al Hidayah, Dusun Rejeni, Desa Wonodadi, Kecamatan Kutorejo pada, Jumat (9/1/2026).
“Iya, 411 dipastikan keracunan MBG soto ayam. Menunya sama, keluhannya sama. Mayoritas korban merupakan anak-anak. Namun terdapat pula korban dari kalangan orang dewasa yang mencicipi MBG yang dibawa pulang oleh anak mereka,” katanya.
Selain memastikan jumlah korban, orang nomor satu di lingkungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mojokerto juga meluruskan skema pembiayaan pengobatan. Ia menyebut pasien ber-KTP Kabupaten Mojokerto dijamin melalui BPJS Kesehatan, sementara pasien dari luar daerah menjadi tanggungan Badan Gizi Nasional (BGN).
“Kabupaten Mojokerto sudah UHC prioritas, jadi warga langsung tertangani otomatis. Sedangkan santri dari luar daerah seperti Sidoarjo dan Jombang, pembiayaannya menjadi tanggung jawab BGN,” jelasnya.
Dapur MBG yang beroperasi sejak 22 September 2025 itu setiap harinya memproduksi 2.679 porsi MBG untuk 22 sekolah dan pondok pesantren (ponpes) di Kecamatan Kutorejo dan Mojosari. SPPG tersebut berpotensi dihentikan secara permanen apabila terbukti melanggar ketentuan yang berlaku. [tin/ted]






