Jember (beritajatim.com) – Bupati Jember, Hendy Siswanto ingin membuktikan kebenaran hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) yang dilansir Kementerian Kesehatan RI menunjukkan prevalensi balita stunted (tinggi badan menurut umur) di Jember mencapai 34,9 persen.
“Kami akan buktikan apakah memang seperti itu Jember. Apakah itu memang benar? Kita harus ada bukti. Tidak asal main survei dengan pola random sampling. Saya tidak terlalu senang dengan pola random sampling. Kita survei semua saja. Benar atau tidak, kita buktikan sama-sama,” kata Hendy, dalam acara dialog publik mengenai sampah untuk memperingati Hari Pers Nasional yang digelar Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), di Pendapa Wahyawibawagraha, Kabupaten Jember, Kamis (9/2/2023).
“Jangan sampai kita ngomong begitu, samplingnya cuma dua di-blow up ke mana-mana. Yang rugi masyarakat Jember. Bukan bupati Jember. Bupati cuma menerima dengar saja. Kami di sini mewakili masyarakat Jember,” kata Hendy.
[berita-terkait number=”5″ tag=”pemkab-jember”]
Saat ini Pemkab Jember menurunkan satuan tugas khusus untuk menangani tengkes. “Kami terjunkan ASN (Aparatur Sipil Negara) ke lapangan bersama TNI-Polri dengan pola penanganan seperti Satgas Covid,” kata Hendy.
Sebelumnya, anggota Komisi D DPRD Jember Achmad Dhafir Syah meminta Dinas Kesehatan melakukan validasi data bulan ini yang bertepatan dengan bulan penimbangan balita dengan nelibatkan perguruan tinggi, agar akurat dan bisa dipercaya. “Bukan kita meremehkan kader (posyandu) kita yang di bawah. Tapi meminimalisasi human error ketika penimbangan maupun memasukkan data stunting di Dinas Kesehatan,” katanya. [wir/kun]






