Jember (beritajatim.com) – Bupati Hendy Siswanto memerintahkan pembongkaran gorong-gorong alun-alun Pemerintah Kabupaten Jember, Jawa Timur. Ia ingin renovasi alun-alun yang dijadwalkan pada 25 Mei hingga akhir Juli 2023 menyeluruh dan bertahan lama.
Pemerintah Kabupaten Jember mengagendakan renovasi alun-alun sejak 25 Mei hingga akhir Juli 2023. “(Setiap) pergantian bupati, renovasinya begitu-begitu saja. Kurang. Yang kami lakukan ini adalah renovasi luar biasa yang bisa untuk selamanya, tidak perlu ada renovasi lagi,” kata Hendy, ditulis Sabtu (3/6/2023).
Renovasi terpenting adalah saluran air. “Saluran di alun-alun ini sejak zaman dahulu kala. Tidak pernah diubah. Tidak ada perbaikan-perbaikan. Perbaikannya normalisasi. Ini salah. Volume debit air yang ada sudah melewati batas, harus ada perubahan saluran,” kata Hendy.
“Gorong-gorong wajib dibongkar. Kalau tidak, banjir lagi. Gorong-gorong harus diperbesar, minimal lebarnya dua meter atau dua setengah meter dan dalamnya dua meter, lebih tinggi dari orang. Selama ini satu meter saja tidak sampai, sehingga sampai kapanpun (air hujan) pasti meluap,” kata Hendy.
“Jadi tidak ada gunanya, kalau kita membangun alun-alun tapi tidak mengubah gorong-gorong. Pekerjaan perbaikan gorong-gorong ini tidak menarik, karena tidak tampak. Uangnya besar, tapi mana kerjaannya? Ada di dalam bumi, tertutup. Perlu dipahami semua, bahwa biaya membuat gorong-gorong beton tidak sederhana, dan itu long term ratusan tahun, tidak perlu diubah lagi,” kata Hendy.
Dengan gorong-gorong baru ini, lanjut Hendy, semua kabel masuk ke dalamnya. “Makanya mahal,” katanya.
Alun-alun tetap akan difungsikan sebagai bagian dari konservasi lingkungan. “Tapi (aspek) teknologi digital modern akan kami munculkan. Ini kan dua tahap rencananya. Tahap kedua tahun depan, termasuk memasang videotron raksasa. Pengalaman penyelenggaraan nonton bareng Piala Dunia kemarin, itu lebih efektif untuk melakukan sosialisasi. Menjual produk Jember bisa lewat videotron itu. Untuk edukasi lebih enak di situ,” kata Hendy.
Dalam konsep baru nanti, seluruh pelaku usaha mikro kecil menengah atau pedagang kaki lima yang berjualan di alun-alun tidak diperbolehkan menggunaka tenda. “Mereka pakai gerobak berjalan. Ada nama dan tempat sampahnya. Kami akan siapkan gerobak-gerobak nanti. Gerobaknya standar dan (pedagang) memakai baju seragam untuk melayani di alun-alun,” kata Hendy.
Para pedagang tidak boleh membangun lapak di alun-alun. “Gerobak harus dibawa pulang. Nanti kami akan siapkan tempat agar gerobak bisa dikumpulkan,” kata Hendy.
Dengan sistem gerobak berjalan, Hendy memperkirakan ada 250-300 orang pedagang yang bisa berjualan di alun-alun dan sekitarnya. “Kalau dengan sistem gerobak tidak masalah, karena mobile,” katanya. [wir]






