Banyuwangi (beritajatim.com) – Banyuwangi dipilih menjadi narasumber oleh Lembaga Administrasi Negara (LAN) RI, dalam kaitannya Indonesia – Jepang Knowledge Exchange Seminar 2022.
Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani hadir memberikan pemaparan langsung di seminar yang bertema “Metaverse Bureaucracy: Digital Tranformation of Local Government Services” yang disaksikan oleh sejumlah birokrat Jepang.
Bupati Ipuk dalam pemaparannya, menjelaskan tentang tantangan yang dihadapi oleh Banyuwangi. Tantangan itu seputar tentang daerahnya sehingga mendorong untuk melakukan digitalisasi birokrasi.
[berita-terkait number=”5″ tag=”pemkab-banyuwangi”]
“Banyuwangi memiliki kawasan yang luas dan membutuhkan pelayanan publik yang cepat. Hal inilah yang mengharuskan kita untuk bertransformasi ke pelayanan digital,” ungkapnya.
Salah satu jawabannya yakni, Banyuwangi mengembangkan sejumlah aplikasi berbasis digital. Gunanya untuk mempercepat kinerja pemerintahan dan pelayanan publik bagi masyarakat.
“Selain itu, kita juga mengembangkan smart kampung untuk mengajak pemerintah desa bersama-sama bertransformasi digital,” terangnya.
Meski demikian, transformasi digital itu tak semua diterapkan pada semua lapisan masyarakat. Karena, masyarakat butuh pemahaman untuk mengetahui lebih jauh mengenai dunia digital. “Berbagai layanan offline juga terus digalakkan,” jelasnya.
Beberapa layanan yang masih terus diterapkan meski di tengah dorongan digitalisasi, yakni adanya Mall Pelayanan Publik (MPP), Pasar Pelayanan Publik, Gerai Pelayanan Publik khusus nelayan dan berbagai layanan jemput bola lainnya, diantaranya Bupati Ngantor di Desa (Bunga Desa).
“Dari program-program tersebut menjadi media bagi kami untuk mensosialisasikan ragam layanan digital. Baik secara keseluruhan maupun sebagian. Di antaranya sekarang kita mengembangkan MPP Digital,” terangnya.
Sementara itu, eputi Bidang Kajian Kebijakan dan Inovasi Administrasi Negara LAN RI Tri Widodo Wahyu memberikan kesempatan Banyuwangi sebagai narasumber karena memiliki keunggulan dan inovasi dalam melakukan transformasi digital yang baik.
“Inovasi-inovasi yang dilakukan oleh Banyuwangi dalam membentuk birokrasi yang baik inilah jadi modal penting untuk transformasi menuju birokrasi metaverse,” terangnya.
Begitu halnya dengan, Direktur Bidang Informasi, Pendidikan, dan Kebudayaan Kedutaan Besar Jepang di Indonesia, Wakabayashi Takahiro.
Dia menyebutkan upaya digitalisasi birokrasi mensyaratkan adanya kekompakan. Seluruh pihak harus saling dukung untuk bersama mendigitalisasi layanan.
“Kegiatan hari ini adalah bentuk saling support untuk mewujudkan digitalisasi birokrasi. Sebagaimana diketahui, agenda G20 dimana Indonesia menjadi presidensi, salah satu agenda pentingnya adalah digitalisasi,” ungkapnya.
Wakabayashi mengamati proses digitalisasi birokrasi di Indonesia berjalan baik. Terutama pada penanganan Covid 19 dalam aplikasi Peduli Lindungi. Awalnya, hal tersebut, sempat disangsikan. Namun, dengan berbagai support, aplikasi tersebut berjalan dengan baik.
“Selain itu, saya juga melihat sejumlah daerah juga bertransformasi cukup baik dalam mewujudkan birokrasi digital. Termasuk Banyuwangi yang cukup lama saya pelajari,” terangnya.
LAN RI menggelar acara tersebut bersama The Japan Council of Local Authorities for International Relations, Singapore Representative Office (J-Clair Singapore) dan Kementerian Dalam Negeri dan Komunikasi Jepang. Selain Bupati Ipuk, acara tersebut juga menghadirkan Yasukawa Kohei (Direktur Transformasi Birokrasi Digital Kota Fukuoka, Jepang) dan Tanno Yusuke (Kepala Transformasi Digital Kantor Pemasaran Kota Nayogawa, Jepang) serta Manpalagupta Sitorus (Chief Sales Marketing WIR Group). (rin/kun)






