Banyuwangi (beritajatim.com) – Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mendapat kesempatan menjadi satu dari delapan kepala daerah di Indonesia mengikuti 2nd Rising Fellowship. Ini merupakan program pelatihan bergengsi yang digelar Pemerintah Singapura untuk pelayanan publik.
Selama lima hari pada 5-9 Maret 2023, Ipuk bersama tujuh kepala daerah dari Indonesia mengikuti kelas secara intensif. Mereka juga berkesempatan menyaksikan secara langsung para anggota parlemen Singapura menyapa konstituen mereka.
“Saya bersyukur mendapatkan kesempatan berharga ini. Ini menjadi peluang bagi Banyuwangi untuk belajar sekaligus menjalin relasi internasional lebih luas lagi,” ujar Ipuk, Jumat (10/3/2023).
Singapura adalah salah satu negara dengan indeks pelayanan publik terbaik di Asia Tenggara. Karena itu, sangat tepat Banyuwangi belajar ke Singapura untuk pelayanan publik yang unggul.
“Saat ini Banyuwangi sedang mengembangkan pelayanan publik berbasis digital melalui Smart Kampung dan MPP Digital. Semoga nantinya ada hal yang bisa dikerjasamakan untuk memperkuat upaya kita ini,” kata Ipuk.
Dalam program ini, Ipuk mendapat kesempatan memaparkan sejumlah inovasi untuk bangkit dari hantaman pandemi. Inovasi itu dikemas dalam tagline “Banyuwangi Reborn”.
“Tangani pandemi, pulihkan ekonomi, dan rajut harmoni. Tiga pilar inilah kunci sukses Banyuwangi keluar dari krisis paska-pandemi,” ucap dia.
Ipuk juga sempat berbincang dengan Wakil Perdana Menteri Singapura, Lawrence Wong. Dia pun mencoba melakukan . penjajakan peluang kerja sama dengan Pemerintah Singapura, terutama di bidang pariwisata.
Baca Juga: Sabar, Jalan Poros Antar Kecamatan di Banyuwangi Ini Akhirnya Mulus
“Daerah kami memiliki sejumlah destinasi wisata berbasis alam. Mulai dari Gunung Ijen, pantai yang terbentang tidak kurang dari 170 km, hingga tiga taman nasional yang masih terjaga,” ungkap Ipuk.
Setiap tahunnya, lanjut Ipuk, ada ribuan wisatawan asing yang berkunjung ke destinasi tersebut. Apalagi dalam tahun ini, Banyuwangi kandidat sebagai salah satu kawasan yang ditetapkan sebagai UNESCO Global Geopark (UGG).
“Potensi tersebut akan semakin meningkat, kiranya Pemerintah Singapura bisa mendorong para pengusaha di sini, berinvestasi di Indonesia. Khususnya di Banyuwangi,” ucap Ipuk.
Pada kesempatan yang sama, Bupati Padang Panjang Fadly Amran, mengaku sangat terkesan mengikuti 2nd Rising Fellowship ini. Dia bersyukur bisa tukar pikiran lanngsung dengan para pejabat eksekutif Singapura.

“Di luar dugaan, kami bisa mendapat kesempatan untuk bertukar pikiran langsung dengan Wakil Perdana Menteri Lawrence Wong dan juga menteri-menteri Singapura,” kata dia.
Fadly mengungkapkan, banyak mendapat ide tentang pembangunan daerah. Dia akan menerapkan ide-ide tersebut untuk memajukan daerahnya.
“Dari program ini, saya banyak belajar dan mendapatkan ide bagaimana selanjutnya membangun daerah kami,” ucap dia.
Sementara, Menteri Luar Negeri Singapura Vivian Balakhrisnan menjelaskan, program Rising Fellowship digagas oleh Presiden Joko Widodo dan PM Lee Hsien Loong pada 2018. Tujuannya untuk membuat platform yang memungkinkan para pemimpin muda saling bertemu dan berbagi pengalaman, sehingga bisa membangun sikap saling percaya di antara kedua bangsa.
Program pertama sudah dilaksanakan pada 2019, tetapi terhenti karena pandemi Covid-19. Vivian mengharapkan, program ini bisa terus berlanjut karena akan memberikan manfaat bagi peningkatan hubungan di antara kedua negara.
Baca Juga: Melihat Packing House di Banyuwangi, Produksinya Tembus Luar Negeri
Menlu Vivian mencatat tiga hal yang harus menjadi perhatian bersama ke depan. “Pertama adalah tantangan global yang penuh ketidakpastian. Tantangan ini hanya bisa dihadapi kalau kita bekerja sama,” kata Vivian.
Kedua adalah potensi besar yang dimiliki Indonesia, mulai dari penduduk muda yang besar, sumber daya alam yang melimpah, dan potensi ekonomi digital yang juga besar. “Singapura ingin menjadi partner yang bisa mengoptimalkan semua potensi tersebut,” tambah Vivian.
Ketiga perlunya meningkatkan hubungan di antara warga sehingga tercipta saling percaya yang semakin kuat. “Hubungan di antara kedua bangsa tidak cukup hanya pada level pemerintah dan bisnis, tetapi yang tidak salah pentingnya bagaimana warga di antara kedua bangsa bisa jauh lebih saling mengenal,” tutup Menlu Singapura.
Sebanyak delapan kepala daerah berkesempatan mengikuti program ini yaitu Walikota Makassar M Ramdhan Pomanto, Bupati Banyumas Ahmad Hussein, Bupati Banggai Amirudin Tamoereka, Bupati Mamuju Tengah Aras Tammauni, Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandiani, Bupati Tegal Umi Azizah, dan Wagub Bali Tjokorda Oka Artha. [beq]






