Sabtu, 14 Maret 1980. Bung Hatta pergi untuk selamanya.
Dalam laporan utamanya, Tempo menyebut: ‘Tak ada suasana sedih di rumah kediaman Bung Hatta. Juga tak ada keluarga yang bepura-pura sedih. Jumat jam 18.58 pekan lalu proklamator itu wafat di RSUP dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta (sekitar 1 kilometer saja dari rumahnya) dan nampaknya istri dan ketiga putrinya sudah siap.‘
Namun masyarakat Indonesia yang agaknya tidak siap dan terkesiap dengan kepergian itu. Panjangnya arak-arakan manusia yang mengantarkan jenazahnya (empat kilometer, menurut laporan Majalah Tempo 22 Maret 1980), dan kibaran spanduk putih bercat hitam bertuliskan ‘Selamat Jalan, Bapakku! menunjukkan tempat Bung Hatta di tengah rakyat.
Hari itu, Buya Hamka menangis di sela-sela panjatan doa usai salat jenazah, dan seorang Kristen meminta izin menyanyikan lagu rohani sebelum keberangkatan Bung Hatta ke pemakaman rakyat di Tanah Kusir, Jakarta.
Gerimis turun saat jenazah Bung Hatta dimasukkan pelan ke liang lahat. Dan keesokan harinya seluruh gereja dan sekolah Katolik mengadakan misa arwah untuknya.
Setahun kemudian, Iwan Fals mengenang kepergian Mohammad Hatta dengan lagu yang sejudul dengan sapaan namanya. Liriknya liris dan menggetarkan.
Bernisan bangga berkafan doa
Dari kami yang merindukan orang
Sepertimu
Apa yang sebenarnya dirindukan dari sosok Hatta? Lahir di Aur Tajungkang Mandiangin, Bukittinggi, 12 Agustus 1902, dia bukan sosok yang berkobar-kobar sebagaimana Sukarno.
Berkebalikan dengan Sukarno yang agitatif dan terlihat emosional, Hatta adalah pemikir yang subtil. Teguh pendirian, namun bersedia menggeserkan kaki selangkah ke belakang untuk memberikan tempat kepada Sukarno, yang kelak mengkhianatinya dari puncak kekuasaan negeri ini.
Saat Sukarno dikelilingi wanita dan orang-orang berpangkat yang menantikan rangkaian pesta dansa-dansi di istana yang dikutuk Soe Hok Gie, Hatta memilih jalan sunyi seorang asketik: menolak kenikmatan duniawi dengan dikelilingi ribuan buku.
Sukarno tentu saja seorang pembaca buku yang lahap dan penulis yang gemilang. Namun kita lebih mengenal kisah masyhur Hatta yang membawa 16 peti besi berisi buku dalam pengasingan di Boven Digul dan Banda Neira. Dari pengasingan, dia menulis artikel-artikel untuk surat kabar Pemandangan.
Dan Hatta meninggal dunia dengan meninggalkan sebuah memoar yang belum selesai. [Memoar Hatta ini kelak diterbitkan Penerbit Buku Kompas dengan judul ‘Untuk Negeriku‘ yang terdiri atas tiga jilid.]
Kita merindukannya, mungkin, karena di tengah ancaman yang tak pernah rehat terhadap demokrasi sepanjang sejarah negeri ini, tak banyak orang seperti Hatta. Dia menunjukkan kesetiaan pandangannya terhadap jalan demokrasi, sekaligus menjadi parrhesia, truth teller: dengan suara yang terdengar nyaring di tengah rasa takut yang senyap pada masa pemerintahan Sukarno dan Soeharto.
Dalam wawancara dengan Majalah Tempo, 26 April 1975, Hatta menegaskan ekonomi Indonesia yang mendasarkan diri pada koperasi dengan sistem politik demokrasi.
Risalahnya ‘Demokrasi Kita’ yang diterbitkan di majalah Panji Masyarakat yang dipimpin Buya Hamka masih dikutip dengan semangat penuh keyakinan, bahwa “demokrasi tidak akan lenyap dari Indonesia. Mungkin ia tersingkir sementara…tetapi ia akan kembali dengan tegapnya. Memang tak mudah membangun suatu demokrasi di Indonesia, yang lancar jalannya. Tetapi bahwa ia akan muncul kembali, itu tidak dapat dibantah.”
Hatta menampik mereka yang terburu-buru dan tidak sabar terhadap demokrasi.
Suatu saat, Soekarni, rekan seperjuangannya, datang membawa kabar tentang perkembangan situasi di Surabaya pada November 1945.
Soekarni gemas dengan Sukarno yang menganjurkan rakyat Surabaya untuk tenang dan bersabar menghadapi kemauan Inggris. Soekarni memandang Sukarno tidak lagi pantas menjadi Presiden Republik Indonesia dan harus diganti.
“Dan siapa penggantinya?” tanya Hatta, sebagaimana tertulis dalam buku otobiografinya berjudul ‘Menuju Gerbang Kemerdekaan‘.
“Tan Malaka,” sahut Soekarni.
Soekarno memang pernah berwasiat, jika dirinya dan Hatta dibunuh atau ditangkap Sekutu, Tan Malaka akan menggantikannya meneruskan perjuangan. Hal itu disampaikannya langsung kepada Tan Malaka saat bertemu pada 9 September 1945.
Sukarno mungkin mengecewakan. Namun dia masih hidup. Ide Soekarni jelas terburu-buru.
“Republik Indonesia bukanlah suatu perkumpulan yang ketuanya dapat diganti saja atas tuntutan beberapa pemimpinnya. Republik Indonesia adalah suatu negara yang presidennya dipilih dengan cara tertentu menurut UUD,” kata Hatta kepada Soekarni.
Hatta percaya demokrasi selaras dengan kehidupan rakyat Indonesia. “Pergaulan hidup Indonesia yang asli berdasarkan demokrasi, yang sampai sekarang masih terdapat di dalam desa Indonesia,” tulisnya dalam Demokrasi Kita.
Dia meyakini, “Kedaulatan rakyat ciptaan Indonesia harus berakar dalam pergaulan sendiri yang bercorak kolektivisme. Demokrasi Indonesia harus pula berupa perkembangan dari pada demokrasi Indonesia yang asli.”
Hatta menyebutkan lima anasir demokrasi asli itu: rapat, mufakat, gotong royong, hak mengadakan protes bersama, dan hak menyingkir dari daerah kekuasaan raja.
Lima anasir ini, menurut Hatta, adalah pokok yang kuat bagi demokrasi sosial, ‘yang akan dijadikan dasar pemerintahan Indonesia Merdeka di masa datang.’
Prasangka baik kepada rakyat dan kedaulatannya itu yang hari-hari ini kita rindukan. Terdengar naif mungkin. Namun itu yang diyakini Hatta sebagai nilai seorang pemimpin.
“Menduga perasaan rakyat dan bisa memberikan jalan kepada perasaan itu keluar kewajiban yang amat sulit dan susah. Itulah kewajiban leadership!” [Berjuang dan Dibuang, 2011]
Dan di ujung tulisan ini, kita pun insyaf dan dapat memahami: kenapa sejumlah orang kampung di Jakarta mengibarkan spanduk putih bercat hitam bertuliskan ‘Selamat Jalan, Bapakku!’ di tengah hari yang gerimis. Empat puluh lima tahun silam. [wir]






