Bojonegoro (beritajatim.com) – Kantor Cabang Perum Bulog Bojonegoro mengaku telah menyiapkan gudang untuk menyerap hasil panen padi petani pada musim panen tahun ini. Panen raya diperkirakan mulai Maret 2025. Penyerapan musim panen tahun ini juga diterapkan dengan harga pembelian pemerintah (HPP) baru.
Pemimpin Cabang Perum Bulog Bojonegoro Ferdian Darma Atmaja mengatakan, penyerapan hasil panen padi pada tahun ini telah disesuaikan dengan HPP baru yang ditetapkan Badan Pangan Nasional per 15 Januari 2025. HPP baru itu untuk gabah kering panen (GKP) senilai Rp6.500 per kilogram di kalangan petani.
Kemudian, GKP di Penggilingan dengan harga Rp6.700 per kilogram. Sedangkan untuk harga gabah kering giling (GKG) di tingkat penggilingan senilai Rp8.000 per kilogram. Sedangkan untuk GKG ditingkat Bulog seharga Rp8.200 per kilogram.
“Tetapi Bulog juga tidak serta merta membeli gabah sesuai HPP. Bisa juga harga diatasnya karena di Sentra Penggilingan Padi Bulog di Desa Kunci Kecamatan Dander ini juga ada program komersial, selain PSO,” ujarnya, Kamis (16/1/2025).
Kenaikan HPP yang dilakukan oleh Badan Pangan Nasional ini, kata dia, bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan petani atau produsen. Hal itu sesuai program Presiden RI Prabowo Subianto untuk mendukung swasembada pangan. Pihaknya berharap, dengan adanya kenaikan HPP ini petani bisa menjual hasil panen ke Bulog untuk memenuhi gudang. Sehingga stok bisa melimpah.
“Bulog Bojonegoro telah meyiapkan gudang untuk dimaksimalkan penyerapan hasil panen padi petani sebanyak-banyaknya. Kedepan juga disalurkan kembali ke masyarakat melalui beberapa program,” terangnya.
Pria asal Sumenep, Madura itu menambahkan, untuk memaksimalkan serapan hasil panen tahun ini, pihaknya juga telah berkoordinasi dengan pemerintah daerah yang diampu Bulog Bojonegoro. Yakni Pemkab Bojonegoro, Tuban, dan Pemkab Lamongan.
“Kami memberikan saran masukan kepada pemerintah daerah untuk membuat kebijakan yang mengarahkan penjualan hasil panen petani ke Bulog. Tidak perlu 100 persen di jual semua ke Bulog, hanya 5 persen saja satu orang petani sudah cukup,” katanya.
Kebijakan itu diharapkan bisa meminimalisir adanya kekurangan stok beras di daerah yang surplus padi.
Sementara, data dari Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Bojonegoro menyebut, produksi padi pada 2024 total dari 28 kecamatan yang ada di Bojonegoro sebesar 250.485,75 ton. Jumlah panen padi itu dari luas lahan panen 41.927,5 hektare. [lus/but]






