Surabaya (beritajatim.com) – Emas sejak ribuan tahun silam telah memikat perhatian umat manusia. Elemen kimia bernomor atom 79 ini bukan hanya dikenal karena tampilannya yang memesona, tetapi juga karena fungsinya yang terus berkembang dari masa ke masa. Mulai dari aksesoris mewah hingga instrumen investasi yang stabil, emas seolah tidak pernah kehilangan daya tariknya.
Menurut catatan National Mining Association, sejarah penggunaan emas untuk mempercantik diri sudah dimulai sejak tahun 4000 SM. Salah satu buktinya adalah jasad wanita dari zaman batu yang ditemukan di London dalam kondisi mengenakan untaian emas di lehernya.
Pada abad ke-3 SM, bangsa Kelt bahkan memasang implan gigi dari emas sebagai simbol status sosial. Di Tiongkok kuno, kaisar-keaisaran dikuburkan bersama kereta dan benda-benda emas yang dianggap bernilai tinggi.
Tak heran jika hingga kini, 78 persen suplai emas tahunan dunia digunakan untuk pembuatan perhiasan. Emas dinilai memiliki nilai prestise dan keindahan visual yang tinggi, menjadikannya favorit banyak kalangan, terutama sebagai perhiasan yang menunjang penampilan.
Selain itu, emas juga dianggap sebagai instrumen investasi yang relatif aman. Baik dalam bentuk perhiasan, emas batangan, maupun koin, logam mulia ini cenderung tahan terhadap inflasi dan fluktuasi ekonomi.
Nilai jual emas yang cenderung naik dari tahun ke tahun menjadi daya tarik utama. Banyak orang memilih tabungan emas sebagai bentuk perencanaan keuangan jangka panjang.
Di sisi lain, emas sejak dulu juga dikenal sebagai simbol kekayaan. Dulu, gigi palsu dari emas digunakan untuk menunjukkan status sosial tinggi. Kini, koleksi emas dalam bentuk apa pun tetap menjadi indikator kekayaan seseorang. Semakin banyak emas yang dimiliki, semakin tinggi pula kesan mewah yang ditampilkan.
Bahkan dalam industri teknologi, emas digunakan sebagai komponen dalam perangkat elektronik, terutama pada kabel konektor. Hal ini karena emas adalah konduktor listrik yang sangat baik, serta tidak mudah bereaksi dengan udara, air, atau zat lain yang bisa menyebabkan korosi.
Dari fungsional hingga simbolik, tak heran jika emas terus diminati lintas generasi. Bagi kalangan awam sekalipun, memiliki emas bisa menjadi keputusan bijak—meningkatkan penampilan sekaligus menyimpan nilai masa depan. [ian]






