Yogyakarta (beritajatim.com)– Budiman Sudjatmiko, mantan aktivis reformasi 1998 (aktivis 98) yang pernah mengalami penangkapan kemudian dipenjara selama 3 tahun, kini tampil berbeda dengan mengenakan seragam loreng dalam agenda pelatihan bertema “The Military Way” di Akademi Militer Magelang.
Seragam loreng yang dikenakan ini menandai peran barunya dalam upaya modernisasi militer di Indonesia sebagai Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan. Selama 3 hari Budiman Sudjatmiko mengikuti Retret Kabinet Merah Putih di Magelang. Dalam retret tersebut diri
Sebagai aktivis yang lama berjuang untuk demokrasi, Budiman mengaku melihat modernisasi militer sebagai bagian dari tanggung jawab baru aktivis setelah demokrasi tercapai.
Ia mengacu pada pemikiran Samuel P. Huntington dalam buku “Gelombang Ketiga Demokrasi,” yang menurutnya menekankan pentingnya memodernisasi militer dalam pemerintahan demokratis.
“Tugas aktivis pro-demokrasi setelah demokrasi tercapai adalah memodernisasi tentara, bukan tunduk pada militerisme,” ujar Budiman
Budiman menegaskan bahwa peran militer dalam rezim demokratis harus berbeda dari era otoriter. Tentara, katanya, kini berfokus pada pertahanan nasional tanpa terlibat dalam politik praktis sebagaimana terjadi di masa lalu.
“Dulu, militer dipaksa memilih partai politik, dulu ada Fraksi TNI/Polri. Sementara kini fraksi militer sudah tak ada. Kita harus mengerti evolusi ini,” jelasnya.
Budiman juga menekankan pentingnya keberadaan militer di tengah ketidakpastian geopolitik dunia. Menurutnya, sebuah negara demokratis tetap membutuhkan tentara untuk mempertahankan kedaulatan dan, pada akhirnya, melindungi sistem demokrasinya.
Baris-Berbaris dan Seragam Loreng: Bukan Tanda Militerisme
Dalam pelatihan itu, Budiman dan peserta lainnya terlibat dalam kegiatan baris-berbaris dan mengenakan seragam loreng. Bagi Budiman, kegiatan ini lumrah dan tidak menunjukkan pengaruh militerisme. Ia membandingkannya dengan berbagai sektor lain, mulai dari dunia usaha hingga olahraga, yang kadang mengadakan pelatihan disiplin serupa.
“Bahkan di tim sepak bola, latihan baris-berbaris bukanlah hal aneh. Ini lebih ke pembentukan karakter disiplin daripada bentuk militerisme,” tegasnya.
Peran Baru di Kabinet Merah Putih Bersama Prabowo-Gibran
Budiman bukan satu-satunya mantan aktivis yang kini masuk dalam Kabinet Merah Putih di pemerintahan Prabowo-Gibran. Sejumlah mantan aktivis lainnya, seperti Agus Jabo dan Nezar Patria, juga telah bergabung.
Budiman mengungkapkan, ia sering berdiskusi santai dengan rekan-rekannya, termasuk Nezar Patria, mengenai perubahan yang terjadi di Indonesia. “Dunia berubah, dan kalau kita tak beradaptasi, kita hanya akan mengulangi sejarah,” ujarnya.
Budiman berpendapat bahwa setiap 25 tahun, bangsa Indonesia harus mengevaluasi dan mengubah agenda prioritasnya. Jika masa lalu berfokus pada pembebasan, kini ia melihat kedaulatan dan pengentasan kemiskinan sebagai prioritas utama.
Misi Mengentaskan Kemiskinan Ekstrem dalam Lima Tahun
Bersama Presiden Prabowo, Budiman kini memimpin Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan, badan yang bertugas menekan angka kemiskinan di Indonesia dalam periode 2024-2029. Prabowo menargetkan kemiskinan ekstrem dapat ditekan hingga nol persen dalam dua tahun pertama, sementara tingkat kemiskinan umum diharapkan menurun menjadi 5 persen pada 2029.
Menurut Budiman, badan ini akan berfungsi sebagai pusat sinkronisasi program anti-kemiskinan di berbagai kementerian dan lembaga. Selain itu, program ini akan melakukan pemutakhiran data kemiskinan untuk memetakan masyarakat miskin secara lebih akurat, sekaligus meluncurkan sejumlah inisiatif pemberdayaan, seperti koperasi, BUMDES, hingga pelatihan keterampilan dan teknologi.
“Dalam lima tahun ke depan, kita harus mampu mengatasi persoalan kemiskinan secara signifikan,” tegas Budiman.
Dengan langkah-langkah strategis ini, Budiman Sudjatmiko, yang dulu dikenal sebagai simbol perlawanan terhadap militerisme, kini berupaya mewujudkan visi pertahanan dan keadilan sosial di Indonesia yang demokratis. [aje]






