Ponorogo (beritajatim.com) – Petani di Ponorogo kini memiliki alternatif baru dalam mengendalikan hama dan penyakit tanaman. Yakni menggunakan menggunakan Bubur California. Inovasi Bubur California ini, merupakan pestisida nabati berbahan dasar belerang, batu kapur, dan air yang dikembangkan oleh Kelompok Tani Bangunsari.
Bubur California ini, menawarkan solusi ramah lingkungan bagi petani yang ingin mengurangi ketergantungan pada pestisida kimia. Selain lebih ekonomis, penggunaan Bubut California terbukti mampu menekan pertumbuhan jamur dan bakteri yang kerap menyerang tanaman.
Proses pembuatan Bubur California cukup sederhana dan dapat dilakukan sendiri oleh petani. Tepung belerang dan batu kapur halus direbus dalam air mendidih hingga larut. Setelah diaduk hingga merata dan dibiarkan mendidih kembali, larutan kemudian didinginkan dan dibiarkan selama 24 jam agar cairan dan endapan terpisah.
“Nah bagian cairan yang berwarna kuning kemerahan kemudian diambil dan disimpan dalam jeriken atau botol untuk digunakan,” kata Anggota Kelompok Tani Bangunsari, Ahmad Subkhi, Kamis (20/02/2025).
Bubur California dapat diaplikasikan pada tanaman dengan dosis yang disesuaikan berdasarkan usia tanaman. Petani mencampurkan cairan Bubuk California dengan air sebelum disemprotkan ke tanaman guna menekan pertumbuhan jamur dan bakteri.
Ahmad Subkhi mengaku sudah mengaplikasikan Bubur California kepada tanaman padinya. Ia mengakui manfaatnya dalam mengendalikan hama, tanpa harus bergantung pada pestisida kimia.
“Bubur California ini sangat membantu. Kami bisa menghemat biaya dan tetap menjaga kesehatan tanaman,” katanya.
Sementara itu, Petugas Pengendali Penyakit Tanaman (PUPT) Provinsi Jawa Timur, Edy Mulyono turut mengapresiasi inovasi ini. Menurutnya, selain di Bangunsari, beberapa kelompok tani lain di Ponorogo juga menerapkan metode serupa dengan hasil yang cukup menjanjikan.
“Bubur California sangat membantu petani mengurangi biaya produksi dan menjaga kelestarian lingkungan,” jelasnya.
Dengan penerapan Bubur California petani tidak hanya mampu mengendalikan penyakit tanaman secara alami, tetapi juga mengurangi ketergantungan terhadap pestisida kimia. Keberhasilan inovasi ini membuka jalan bagi pertanian yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan di Ponorogo.
“Inovasi ini bisa menjadi awal bagi pertanian Ponorogo yang lebih ramah lingkungan,” tutup Edy. (end/ian)






