Ponorogo (beritajatim.com) — Kabupaten Ponorogo segera memiliki Brigade Infanteri Teritorial Pembangunan (Brigif TP) dan Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan (Yonif TP). Rencana pembangunan satuan strategis TNI AD itu berada di lahan seluas 102 hektare di Desa Pulung Merdiko, Kecamatan Pulung.
Kepastian itu mengemuka saat Pangdam V/Brawijaya Rudy Saladin bersama jajaran Forkopimda Ponorogo meninjau langsung lokasi pembangunan. Kehadiran Brigif TP dan Yonif TP tersebut menjadi bagian dari program strategis TNI AD yang saat ini terus dikembangkan di berbagai daerah di Jawa Timur.
Mayjen TNI Rudy Saladin mengatakan, pembangunan Yonif TP di Ponorogo masuk tahap 4 pembangunan batalyon teritorial pembangunan di wilayah Kodam V/Brawijaya. Sebelumnya, program serupa telah berjalan di sejumlah daerah lain dan dinilai memberi dampak positif bagi masyarakat sekitar.
“Ini salah satu dari 17 Yonif Teritorial Pembangunan tahap 4 yang dibangun jajaran Kodam V/Brawijaya,” kata Rudy Saladin, Senin (25/5/2026).
Menurutnya, kehadiran batalyon teritorial pembangunan tidak hanya memperkuat pertahanan negara, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi desa. Sebab, keberadaan ratusan hingga ribuan prajurit dipastikan menciptakan perputaran uang di wilayah sekitar markas. “Kalau yang sudah-sudah dampaknya luar biasa bagi desa setempat. Karena masyarakat ekonomi terdampak langsung,” ungkapnya.
Dalam tahap awal pembangunan di Ponorogo, sekitar 500 hingga 600 prajurit dijadwalkan mulai menempati kawasan tersebut pada pertengahan Juli mendatang. Saat ini, TNI meminta percepatan pembangunan empat barak konvensional beserta instalasi listrik, air, dan akses jalan agar kedatangan personel bisa segera terealisasi.
“Kami minta rekan kontraktor pengembang segera menyelesaikan empat barak konvensional dan instalasi listrik serta airnya. Pertengahan Juli kalau bisa awal sudah siap, karena minggu kedua mereka masuk,” terang Pangdam.
Rudy menjelaskan, keberadaan ratusan prajurit dengan penghasilan tetap diyakini bakal menghidupkan ekonomi warga sekitar. Kebutuhan sehari-hari para prajurit dipastikan akan dipenuhi dari lingkungan sekitar batalyon.
“Kalau misal 500-600 orang tinggal di sini dengan gaji rata-rata Rp5 sampai Rp6 juta, maka ada sekitar Rp3 miliar uang berputar di desa setiap bulan. Mereka pasti beli kebutuhan sehari-hari di sini, makan di sini,” ungkapnya.
Pangdam berharap masyarakat dapat menangkap peluang ekonomi tersebut dengan menghadirkan usaha kecil, warung, hingga UMKM pendukung kebutuhan prajurit. Dengan begitu, pembangunan Brigif TP dan Yonif TP tidak hanya berdampak pada sektor pertahanan, tetapi juga kesejahteraan masyarakat desa. “Kami harapkan nanti ada warung dan UMKM yang tumbuh sehingga berdampak pada ekonomi kerakyatan,” pungkasnya. (end/kun)






