Mojokerto (beritajatim.com) – Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Mojokerto mencatat tanaman palawija masih menjadi penopang penting sektor pertanian daerah. Berdasarkan Statistik Tanaman Pangan Kabupaten Mojokerto Tahun 2025, luas panen palawija menunjukkan dinamika yang cukup signifikan, dengan jagung tetap menjadi komoditas unggulan masyarakat.
Kepala BPS Kabupaten Mojokerto, Dwi Yuhenny menjelaskan bahwa luas panen sangat berpengaruh terhadap besarnya produksi palawija. Semakin luas area panen, umumnya produksi yang dihasilkan juga semakin tinggi. Namun, faktor lain seperti perawatan tanaman, serangan organisme pengganggu tanaman (OPT), hingga kondisi cuaca juga berperan besar.
“Pada kondisi tertentu, meskipun luas panen cukup besar, produksi tidak selalu maksimal apabila perawatan kurang optimal atau terjadi gangguan cuaca dan bencana,” ungkapnya, Rabu (21/1/2026).
Secara musiman, luas panen palawija terbesar di Kabupaten Mojokerto pada tahun 2024 terjadi pada Sub Round III (September–Desember) dengan total mencapai 19.121,6 hektare. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan Sub Round II (Mei–Agustus) seluas 11.250,3 hektare dan Sub Round I (Januari–April) sebesar 6.900,6 hektare.
Jagung tercatat sebagai komoditas palawija dengan luas panen tertinggi di seluruh sub round. Pada Sub Round III 2024, luas panen jagung mencapai 16.998,0 hektare, meningkat tajam 60,20 persen dibandingkan Sub Round II. Kondisi ini menjadi indikasi kuat bahwa jagung masih menjadi primadona petani Kabupaten Mojokerto.
“Jagung banyak diminati karena perawatannya relatif mudah dan permintaan pasar cukup tinggi, baik untuk konsumsi maupun kebutuhan industri,” jelasnya.
Sementara itu, tanaman kedelai menunjukkan lonjakan signifikan pada Sub Round III. Jika pada Sub Round I luas panen hanya 19,9 hektare dan Sub Round II 15,2 hektare, maka pada Sub Round III meningkat drastis menjadi 813,3 hektare. Untuk komoditas kacang tanah dan ubi kayu, pola luas panen cenderung serupa, yakni tertinggi pada Sub Round II.
Kacang tanah mencatat luas panen 126,1 hektare pada Sub Round I, meningkat pada Sub Round II, lalu menurun di Sub Round III. Sedangkan ubi kayu mengalami peningkatan pesat dari 62,6 hektare pada Sub Round I menjadi 157,3 hektare di Sub Round II, sebelum turun menjadi 112,0 hektare pada Sub Round III.
“Tanaman ubi jalar memiliki luas panen terbesar pada Sub Round III yakni 888,3 hektare, dan paling kecil pada Sub Round I sebesar 260,8 hektare. Data ini diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi dan perencanaan bagi pemangku kebijakan serta petani dalam menentukan pola tanam yang lebih efektif ke depan, sehingga produksi palawija di Kabupaten Mojokerto dapat terus meningkat dan berkelanjutan,” tegasnya. [tin/aje]






