Probolinggo (beritajatim.com) – Pemerintah Kota Probolinggo menggelar simulasi penanganan bencana banjir di depan Kantor Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di Jalan Mastrip pada Kamis (19/12/2024). Simulasi ini bertujuan untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan koordinasi antarinstansi dalam menghadapi potensi bencana banjir.
Dalam simulasi ini, BPBD Kota Probolinggo menyiapkan tujuh tenda darurat sebagai bagian dari skenario penanganan pengungsi. Simulasi ini melibatkan anggota BPBD dan relawan yang bertindak seolah-olah dalam situasi bencana banjir yang sebenarnya.
Kepala Dinas BPBD Kota Probolinggo, Sugito Prassetiyo, menjelaskan bahwa dalam simulasi evakuasi, tim berhasil mengevakuasi tujuh orang dewasa, tiga anak-anak, dan satu penyandang disabilitas. Simulasi ini dimulai pukul 08.00 WIB dan berakhir pukul 10.30 WIB. Seluruh korban dan pengungsi kemudian dibawa ke posko induk yang telah disiapkan.
“Kami telah melakukan simulasi untuk situasi bencana banjir, mengingat saat ini juga memasuki musim penghujan. Dalam simulasi ini kami menyiapkan posko induk yang dimana para korban bencana dan pengungsi akan arahkan ke sana untuk dievakuasi,” jelasnya.
Sugito menambahkan bahwa posko pengendali bencana telah membentuk tujuh klaster. Klaster pertama fokus pada evakuasi dan pencarian korban.
Klaster-klaster lainnya melaksanakan tugas dan fungsi sesuai dengan bidangnya masing-masing. Simulasi ini mengambil skenario luapan Sungai Legundi di Kelurahan Kademangan. BPBD menilai simulasi penanganan banjir di lokasi tersebut berjalan dengan baik dan sesuai prosedur.
Pj Wali Kota Probolinggo, Taufiq Kurniawan, memberikan apresiasi atas kesiapan dan pelaksanaan simulasi tersebut. Ia menekankan pentingnya memperhatikan kondisi psikologis para pengungsi yang umumnya berada dalam situasi stres dan sensitif. Ia juga berpesan kepada tim penanganan pengungsi untuk meningkatkan kesabaran dan keikhlasan dalam melayani para pengungsi.
“Saya berpesan kepada para relawan saat terjun dilapangan dan tidak dalam kondisi simulasi agar selalu sabar dan ikhlas. Tentunya juga para relawan harus menjaga kebugaran fisik serta mental meski tengah fokus menangani pengungsian,” ungkapnya.
Simulasi ini diharapkan dapat meningkatkan koordinasi dan efektivitas penanganan bencana banjir di Kota Probolinggo. Dengan latihan yang terkoordinasi, diharapkan dapat meminimalisir dampak negatif yang ditimbulkan oleh bencana banjir dan memberikan pelayanan yang optimal kepada masyarakat yang terdampak. (ada/kun)






