Mojokerto (beritajatim.com) – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Mojokerto kekurangan mobil pemadam kebakaran (damkar). Luas wilayah Kabupaten Mojokerto membuat kebutuhan mobil damkar cukup tinggi, ditambah dari enam unit mobil damkar dua unit mengalami kerusakan.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Mojokerto, Muhammad Zaini mengatakan, saat ini belum ada tambahan armada untuk mobil damkar sehingga ketersediaan fasilitas damkar yang minim membuat BPBD Kabupaten Mojokerto kelimpungan dalam penanganan kebakaran yang mulai mengalami kenaikan menyusul masuknya musim kemarau.
“Sehingga mau tidak mau kita harus memanfaatkan armada yang ada. Saat ini, kita punya ada enam armada terbagi dalam dua pos. Tiga armada di pos wilayah Mojosari dan tiga armada lainnya di pos utama kantor BPBD. Dengan luas wilayah kabupaten, idealnya dibutuh delapan unit armada damkar. Termasuk kebutuhan tangga hidrolik,” ungkapnya, Jumat (31/7/2020).
“Alasannya, karena minimnya anggaran. Memang tidak sedikit anggaran yang dibutuhkan, untuk satu unit kapasitas 7 ribu liter kisaran antara Rp1,8 miliar hingga Rp2 miliar. Dua armada yang tak layak pakai ini memiliki kapasitas 5 ribu liter air hasil pengadaan tahun 1997-an. Baru masuk musim kemarau, sudah ada 11 kasus kebakaran,” ujarnya.
[berita-terkait number=”4″ tag=”mojokerto”]
Baik kebakaran lahan, rumah, gudang, hingga industri. Saat puncak kemarau, lanjut Zaini, dalam sehari bisa tiga sampai empat titik kebakaran. Hal ini membuat BPBD membutuhkan armada tambahan. Jumlah kasus kebakaran pada tahun 2019 lalu, dari data BPBD Kabupaten Mojokerto setidaknya ada 87 kasus kebakaran.
“Untuk frekuensi kebakaran saat kemarau memang biasanya lebih tinggi. Namun, biasanya juga dibantu PMK daerah lain yang terdekat. Dengan luas wilayah Kabupaten Mojokerto yang cukup luas, proposionalnya kurang empat unit. Kita sudah ajukan sementara dua dulu, sisanya tahun depan, dua unit lagi,” pungkasnya. [tin/but]







