Bondowoso (beritajatim.com) – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bondowoso memperkuat koordinasi lintas sektor untuk mengantisipasi ancaman kekeringan dan kebakaran hutan di musim kemarau tahun ini.
Kepala Pelaksana BPBD Bondowoso, Sigit Purnomo, mengungkapkan bahwa pihaknya telah memetakan 15 desa di 9 kecamatan yang rawan terdampak kekeringan.
Selain memetakan wilayah rawan, BPBD juga menyiapkan sarana dan prasarana pendukung. Sinergi dengan pemerintah provinsi, pemerintah pusat, hingga Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terus dijalin untuk memperkuat langkah mitigasi.
“Kita berupaya memastikan layanan air bersih berjalan lancar, apalagi sudah ada dukungan dari provinsi dan pusat,” kata Sigit, Senin (28/4/2025).
Untuk mengoptimalkan distribusi air bersih, BPBD Bondowoso mengajukan tambahan anggaran. Jika sebelumnya anggaran hanya mencukupi satu bulan distribusi, kini diperpanjang untuk dua bulan. “Total estimasi kebutuhan Rp500 juta untuk lima bulan ke depan,” sebutnya.
Tidak hanya fokus pada distribusi air, langkah jangka panjang juga ditempuh dengan mengajukan program pengeboran sumur. “Tidak hanya fokus pada distribusi air, BPBD juga mengantisipasi potensi kebakaran hutan dan lahan,” ulas Sigit.
Kesiapan alat dan koordinasi dengan berbagai pihak terus dimatangkan. Sebab, dampak kebakaran hutan bisa meluas dan berimbas pada kehidupan sosial dan ekonomi warga. Dalam aspek pendidikan, Tim Sekolah Tangguh Bencana (Segana) Kabupaten Bondowoso turut mengambil peran penting.
“Dalam bidang pendidikan, Tim Sekolah Tangguh Bencana (Segana) Kabupaten Bondowoso turut mengambil peran penting,” ucapnya.
Ketua Segana, Catur Mega Sofianto, menegaskan pentingnya menjaga keberlangsungan pendidikan anak-anak melalui pendirian sekolah darurat dan layanan pemulihan psikososial bagi anak-anak terdampak bencana.
“Anak-anak yang terdampak bencana sangat rentan mengalami trauma. Karena itu, menciptakan suasana belajar yang aman menjadi prioritas,” ujar Catur.
Ia berharap semakin banyak sekolah tangguh bencana yang lahir sebagai pusat edukasi dan pemulihan pasca-bencana. “Kita optimistis mampu meminimalisir dampak musim kemarau,” tegasnya.
Kolaborasi erat antara pemerintah daerah, provinsi, pusat, dan lembaga pendidikan diyakini menjadi kunci memperkuat ketahanan masyarakat menghadapi ancaman kekeringan dan kebakaran hutan di Bondowoso. [awi/suf]






