Bojonegoro (beritajatim.com) – Bulan November 2021 ini menjadi peralihan fenomena matahari tepat berada di posisi paling tinggi di langit, atau disebut kulminasi. Dampak terjadinya kulminasi ini sehingga suhu bumi terasa lebih terik. Termasuk yang terasa di Kabupaten Bojonegoro belakangan.
Selain kulminasi yang diperkirakan berakhir pada November ini, juga menjadi awal terjadi La Nina. Berdasarkan informasi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) fenomena La Nina diperkirakan akan terjadi pada November 2021 hingga Februari 2022 dengan intensitas lemah – sedang.
Dampak adanya fenomena tersebut diperkirakan akan terjadi cuaca ektrem saat siang panas sekali, pada malam hari terasa sangat dingin. Selain itu juga adanya potensi peningkatan curah hujan tinggi yang bisa memicu bencana hidrometeorologi.
“Kalau sebelum hujan ada gerimis yang disertai puting beliung karena efek kulminasi sebelum datangnya la nina, sedangkan la nina terjadi dari November – Februari,” ujar Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bojonegoro Zaenul Ma’arif, Selasa (2/11/2021).
[berita-terkait number=”4″ tag=”bpbd-bojonegoro”]
Zaenul Ma’arif menjelaskan, adanya fenomena La Nina, masyarakat diimbau agar lebih waspada terhadap cuaca ekstrem yang berpotensi bencana, baik banjir, banjir bandang, longsor, angin kencang, serta badai tropis atau puting beliung.
“Selain di daerah rawan bencana, seluruh masyarakat perlu waspada adanya puncak hujan intensitas tinggi yang diperkirakan akan terjadi pada Januari hingga Februari 2022,” pungkasnya.
Data terakhir, pada Jumat 22 Oktober 2021 angin kencang yang terjadi di Kabupaten Bojonegoro hingga menyebabkan beberapa rumah rusak terjadi di Desa Sidomulyo, Kecamatan Kedungadem. Sedikitnya satu rumah roboh, tiga rumah rusak berat, tiga rumah rusak sedang dan enam rumah rusak ringan. Selain itu, satu kubah masjid jatuh hingga 20 meter tersapu angin. [lus/ted]






