Surabaya (beritajatim.com) – Bagi sebagian orang, lencana Pramuka cuma kain tempel di seragam. Tapi di Baden Powell House (BP House) Indonesia, lencana itu adalah cerita, sejarah, dan sedikit “sihir” yang bisa membuat orang dewasa tiba-tiba rindu masa perkemahan.
Begitu melangkah ke lobby Kompleks Universitas PGRI Adi Buana Surabaya, mata langsung disambut warna-warni badge dan atribut dari seluruh dunia. Ada yang bulat, segitiga, hingga bentuk unik yang bikin penasaran.
Jumlahnya 32 ribu badges dan patches, belum termasuk koleksi atribut dari 32 negara yang membuat ruangan ini seperti peta besar dunia kepanduan.
Museum Pramuka terlengkap di Indonesia ini mendapat kunjungan spesial pada Selasa (12/8/2025). Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur, Aries Agung Paewai, datang meninjau sekaligus membuka pameran bertema Scouting America Exhibition untuk memperingati Hari Pramuka ke-64.
Pameran yang berlangsung April-September 2025 ini menampilkan atribut khas Pramuka Amerika mulai seragam resmi dari berbagai negara bagian, tanda pengenal, hingga perlengkapan lapangan yang mungkin belum pernah dilihat Pramuka Indonesia.
Bagi Aries, kunjungan ini memantik kenangan masa sekolah. “Dulu di SD saya hapal betul nama panjang Bapak Pramuka Dunia, Robert Baden Powell, beserta gelarnya. Sekarang mengunjungi museum ini rasanya nostalgia sekali,” ujarnya.
Aries menilai museum tematik seperti BP House bisa menjadi cara efektif mengembalikan minat generasi muda pada kegiatan luar ruang. “Mereka bisa berdiskusi, belajar sejarah Pramuka, dan memahami makna setiap atribut yang dipamerkan,” ungkapnya.

Ia juga memberikan apresiasi kepada Djoko Adi Walujo, pendiri BP House sekaligus kolektor yang puluhan tahun mengumpulkan atribut pandu dari seluruh dunia. “Harus telaten, punya jiwa petualang, dan sahabat di banyak negara. Itu yang membuat koleksi ini luar biasa,” kata Aries.
Dari Kolektor Jadi Penjaga Sejarah
Djoko bercerita, tema pameran kali ini dipilih karena koleksi dari Amerika lengkap dan unik. “Kami ingin pameran ini bisa dinikmati seluas mungkin, termasuk pengunjung dari luar daerah maupun luar negeri,” ujarnya.
Museum ini terbuka gratis untuk pelajar dan masyarakat umum. Djoko menyebutnya sebagai bentuk pendidikan luar kelas yang menyenangkan sekaligus cara mengusir jenuh dari rutinitas sekolah.
Setiap lencana di BP House punya kisah persahabatan lintas negara, tenda bocor saat hujan, atau kemenangan lomba antarregu. Bagi generasi muda, mengunjungi museum ini adalah pengingat bahwa semangat pengabdian, pelayanan, dan cinta tanah air yang diajarkan Pramuka tetap penting di zaman serba digital.
Bagi Aries, BP House bukan hanya lemari penuh lencana, tapi jembatan yang menghubungkan masa lalu dan masa depan kepanduan. “Pramuka membentuk karakter. Museum ini bisa menjadi ruang belajar yang berharga bagi siswa,” pungkasnya. [ipl/beq]






