Surabaya (beritajatim.com) – Bonek, sebutan suporter Persebaya, menyebut Beritajatim.com yang berusia 19 tahun pada 1 April 2025, telah mewarnai pemberitaan sepak bola domestik.
“Beritajatim.com memberikan warna tersendiri bagi dunia literasi dan jurnalisme sepak bola, khususnya Persebaya,” kata Dhion Prasetya, pendiri komunitas Statsrawon yang menggeluti statistik sepak bola, Selasa (1/4/2025).
Dalam pandangan Dhion, Beritajatim.com sejak awal berdiri sudah memberikan komitmen untuk memberitakan Persebaya.
“Ini membantu saya yang ketika itu bertugas di luar Pulau Jawa butuh pemberitaan tentang Tim Bajul Ijo. Beritajatim.com menghubungkan pembacanya yang rindu dengan kabar Persebaya,” kata Dhion.
Hal senada diungkapkan Dianita Iuschinta, Bonek asal Gresik yang juga penulis buku Yang Terabaikan dari Sepak Bola Indonesia.
“Selama ini Beritajatim.com konsisten bukan hanya sekadar memberitakan tentang Persebaya, tapi uga memberikan sisi edukasi di tiap artikelnya. Ini jadi salah satu hal penting untuk perkembangan literasi sepak bola,” kata Dianita.
Kukuh Ismoyo, salah satu pendiri Bonek Writers Forum, sebuah komunitas literasi di kalangan suporter Persebaya, suka dengan gaya penulisan artikel sepak bola di Beritajatim.com.
“Narasinya berhasil menjadikan tulisan sepakbola yang biasanya tercatat kaku menjadi sangat epik. Pun, data yang diunggah acapkali mengiris kutipan buku-buku dari penulis top,” kata Kukuh.
“Tak hanya menukil dari buku penulis bola saja, tapi juga beberapa kali menukil buku-buku non bola seperti politik, sejarah, dan lain-lain. Sungguh sangat kaya sekali untuk sebuah reportase sepakbola,” kata Kukuh.
Obed Bima Wicandra, dosen dan penulis buku Klopp Time, menyebut artikel sepak bola di Beritajatim.com tidak hanya mengupas teknis. “Namun melihat pertandingan sepak bola sebagai aksi performatif,” katanya.
“Artinya, memandang sepak bola bukan hanya soal kalah menang maupun adu taktik, tapi memandang sepak bola sebagai ‘pertunjukan’ yang melibatkan banyak hal,” kata Obed.
Menurut Obed, menuliskan sepak bola dalam perspektif demikian sangat penting. Ini menjadikan sepak bola setara dengan praktik budaya, bukan sekadar adu menang.
“Dampak jurnalistik sepak bola demikian adalah melahirkan peradaban melalui sepak bola,” kata Obed.
Tentu saja hal ini menjadi tantangan bagi media ke depan. “Di tengah adu kecepatan informasi, terkadang jurnalisme lalai bahwa pembaca adalah manusia yang sekarang bisa mengunyah informasi dalam berbagai perspektif. Hingga detik ini, Beritajatim.com masih berada di jalur yang tepat,” kata Obed.
Dhion menyarankan Beritajatim.com lebih variatif dalam memberitakan Persebaya yang berbeda dengan media lainnya. “Misalnya terkait transfer pemain dan bumbu-bumbu lainnya serta pemberitaan terkait statistik pemain,” katanya.
“Semoga Beritajatim.com semakin terdepan mengabarkan berita tentang Persebaya dan semakin memperkaya literasi apa pun itu bagi pembaca setianya,” kata Dhion.
Kukuh Ismoyo juga berharap Beritajatim.com terus memberikan pemahaman dan pembelajaran yang tegas kepada netizen sepakbola Indonesia. .”Kita sadari netizen sepak bola Indonesia tidak cukup melek literasi,” katanya.
Dengan pengetahuan yang cukup tentang sepak bola, Kukuh berharap, dukungan yang digalakkan tidak hanya berhenti pada sorak sorai di stadion.
“Suporter diharapkan juga mampu mendukung lewat penulisan artikel-artikel, diskusi, atau bahkan menelurkan buku-buku sepakbola. Semoga Beritajatim.com menjadi satu di antara banyak media Indonesia yang mampu mencerdaskan netizen,” kata Kukuh. [wir/ian]






