Bondowoso (beritajatim.com) – Isu kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah menciptakan pemandangan kontras di dua wilayah tapal kuda, Jawa Timur.
Pada Minggu (8/3/2026), Kabupaten Bondowoso dilanda kepanikan warga yang membeli BBM secara berlebihan (panic buying), sementara di Kabupaten Probolinggo situasi justru terpantau kondusif.
Fenomena ini dipicu oleh kekhawatiran akan ketersediaan stok BBM nasional. Isu yang beredar di masyarakat menyebutkan bahwa cadangan BBM nasional hanya tersisa untuk 20 hari ke depan.
Kekhawatiran ini diperparah oleh eskalasi konflik antara Israel-AS dan Iran yang menyebabkan penutupan Selat Hormuz. Jalur pelayaran strategis ini diketahui menjadi lintasan bagi 20 persen distribusi minyak dunia, sehingga ancaman penutupannya langsung memicu spekulasi terganggunya pasokan energi global.
Bondowoso: Antrean Mengular dan Sindiran untuk Menteri
Dampak isu tersebut langsung terasa di Bondowoso sejak pagi hari. Sejumlah SPBU di kota ini kebanjiran pembeli. Salah satu titik terparah terpantau di SPBU Kota Kulon, di mana antrean kendaraan roda dua dan roda empat mengular hingga puluhan meter keluar dari halaman pompa bensin.
Rudi, seorang pengendara asal Bondowoso yang hendak menuju Probolinggo, mengabadikan situasi tersebut. Dalam rekamannya, ia mengonfirmasi kepadatan luar biasa di lokasi.
“Kalau pom (SPBU) Kota Kulon positif (antre). Itu. positif. Lokasi pom kota kulon positif,” ujar Rudi diterjemahkan dari bahasa Madura.
Menariknya, Rudi melontarkan pernyataan kontroversial terkait penyebab kericuhan ini. Ia menyebutkan nama Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, dengan nada sindiran. “Efek perang? bukan. Efek Bahlul. Eh siapa? Bahlil. Efek Bahlil,” ucapnya merekam.
Situasi serupa juga terjadi di SPBU Tamansari, Bondowoso. Para pengendara tampak rela menunggu giliran untuk mengisi tangki kendaraan mereka, khawatir jika tidak segera mengisi, mereka akan kesulitan mendapatkan BBM dalam beberapa hari ke depan.
Probolinggo: Kondusif dan Santai
Pemandangan berbeda ditemukan Rudi setelah ia melanjutkan perjalanan dan tiba di wilayah Probolinggo. Tepatnya di SPBU Paiton, situasi terpantau aman dan kondusif. Tidak terlihat antrean panjang atau perilaku panic buying seperti yang terjadi di Bondowoso.
“Probolinggo pagi ini. Pom Paiton gak ada panic buying. Aman. Santai semua orang-orang. Info-info,” tutur Rudi saat tiba di lokasi.
Ketenangan di Probolinggo ini menunjukkan bahwa dampak isu kelangkaan BBM tidak merata di semua daerah. Masyarakat di Paiton terlihat melakukan pembelian BBM seperti biasa, tanpa tergesa-gesa atau membeli dalam jumlah berlebihan.
Warga Bondowoso ‘Invasi’ ke SPBU Tetangga
Uniknya, meski panik di kota sendiri, Rudi juga mendapatkan informasi bahwa banyak warga Bondowoso yang justru memilih untuk mencari BBM ke luar daerah. Ia menyebut bahwa SPBU Banyuglugur, yang secara administratif masuk ke dalam wilayah Kabupaten Situbondo, dipadati oleh kendaraan berpelat nomor Bondowoso.
“Kalau pom banyuglugur (Situbondo) itu banyak mobil Bondowoso di sana,” imbuhnya.
Fenomena ini menunjukkan bahwa meskipun panik, sebagian warga Bondowoso tetap berusaha mencari alternatif, sekaligus mengindikasikan bahwa ketersediaan BBM di beberapa SPBU tetangga mungkin masih normal. [awi/suf]







2 Komentar
Berita ga valid, habis semua stock bahan bakar se paiton hari ini. Pom Bensin Paiton sepi tuh, ga ada isinya
lagu lama kapan hari gak ada perang hanya gara gara area gunung kumitir di perbaiki SPBU mengular juga,,sekarang masalah perang….ntr Masalah apa lagi..
ini yang gak becus pemerintahnya apa pengelolanya bukan hanya itu LPG 3 KG juga langka dan naik menjelang hari raya dan itu juga lagu lama kemana menteri yang menanganinya ataukah dibawahnya yang mencoba memainkan momen tersebut