Surabaya (beritajatim.com) – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Juanda memprediksi awal musim kemarau di Surabaya akan dimulai secara bertahap sepanjang Mei 2026, dengan mayoritas wilayah kota memasuki fase kemarau pada akhir bulan.
Prakirawan BMKG Juanda, Levi Ratnasari, menjelaskan bahwa sebagian besar wilayah Surabaya diperkirakan mulai mengalami musim kemarau pada dasarian III atau akhir Mei.
“Untuk wilayah Surabaya secara umum awal musim kemarau diprediksi terjadi di bulan Mei Dasarian III atau akhir Mei mendatang,” ujar Levi, Selasa (5/5/2026).
Sementara itu, wilayah Surabaya bagian barat diperkirakan lebih dahulu memasuki masa transisi menuju kemarau, yakni pada pertengahan Mei.
BMKG juga menanggapi isu viral terkait istilah “Godzilla El Nino” yang ramai diperbincangkan publik.
Levi menegaskan bahwa istilah tersebut bukan nomenklatur resmi BMKG, meskipun fenomena El Nino memang diperkirakan memengaruhi pola musim kemarau tahun ini.
“Ditambah fenomena El Nino tersebut, maka kondisi musim kemarau akan lebih terasa kering dan terik,” jelasnya.
Fenomena El Nino berpotensi meningkatkan suhu udara, memperpanjang periode kering, dan membuat cuaca terasa lebih panas dibandingkan kondisi normal.
Menghadapi situasi tersebut, BMKG mengimbau masyarakat Surabaya agar mulai melakukan langkah antisipasi, terutama dalam pengelolaan sumber daya air dan pencegahan risiko kebakaran.
“Gunakan air secukupnya agar tidak kekurangan saat puncak musim kemarau datang, serta hindari aktivitas yang memicu kebakaran lahan,” pungkas Levi. [rma/beq]






