Yogyakarta (beritajatim.com)- Operasi pencarian pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) yang jatuh di kawasan Gunung Bulusaruang, Sulawesi Selatan, akhirnya resmi berakhir. Penutupan dilakukan setelah seluruh korban berhasil ditemukan dan black box pesawat berhasil dievakuasi, membuka jalan bagi pengungkapan penyebab kecelakaan.
Pesawat tersebut sebelumnya hilang kontak pada Sabtu (17/1). Setelah berhari-hari melakukan pencarian di medan ekstrem, tim SAR gabungan menemukan serpihan badan pesawat di puncak gunung, menandai titik lokasi jatuhnya pesawat.
10 Korban Ditemukan, Proses Identifikasi Masih Berjalan
Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) menyatakan seluruh 10 korban telah ditemukan. Dari jumlah tersebut, tiga jenazah telah teridentifikasi dan diserahkan kepada keluarga, sementara tujuh lainnya masih dalam proses identifikasi oleh Tim DVI Polri.
Di sisi lain, kotak hitam pesawat (black box) beserta serpihan badan pesawat telah diserahkan kepada Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) untuk dianalisis lebih lanjut.
Ahli UGM: Black Box Jadi Kunci Mengungkap Detik-Detik Terakhir
Dosen Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada, Ir. Muhammad Agung Bramantya, menjelaskan bahwa data dari Flight Data Recorder (FDR) dan Cockpit Voice Recorder (CVR) akan memberikan gambaran menyeluruh mengenai kondisi pesawat sebelum insiden terjadi.
“Dari black box, penyelidik bisa mengetahui parameter penerbangan sekaligus percakapan di kokpit. Ini menjadi bukti paling penting untuk merekonstruksi kejadian,” ujarnya.
Ia menambahkan, proses pembacaan dan analisis data membutuhkan waktu mulai dari beberapa hari hingga dua pekan, karena harus diteliti secara mendalam agar kesimpulan yang dihasilkan benar-benar akurat.
Dugaan Awal: Kesalahan Navigasi akibat Cuaca Buruk
Informasi awal dari KNKT menunjukkan adanya kesalahan navigasi terhadap kontur medan di sekitar Gunung Bulusaruang. Bramantya menilai, kondisi cuaca ekstrem seperti kabut tebal dan hujan deras sangat mungkin memengaruhi visibilitas pilot.
Dalam kondisi seperti ini, pilot lebih mengandalkan instrumen. Namun, sistem yang belum sepenuhnya otomatis berpotensi memicu kesalahan pembacaan atau interpretasi data.
“Ditambah lagi, komunikasi dengan ATC bisa terganggu. Kombinasi ini dapat memperbesar risiko kecelakaan,” jelasnya.
Dorongan Evaluasi Total Sistem Keselamatan
Bramantya menekankan pentingnya menjadikan hasil investigasi sebagai dasar ilmiah untuk perbaikan sistem keselamatan penerbangan. Menurutnya, rekomendasi ke depan perlu mencakup:
Penyempurnaan prosedur navigasi
Pelatihan intensif awak pesawat dalam kondisi ekstrem
Peningkatan sistem pemantauan cuaca
Modernisasi teknologi ATC
Penguatan kapasitas dan perlengkapan tim SAR
“Tujuannya bukan hanya mengetahui penyebab kecelakaan, tetapi mencegah kejadian serupa di masa depan,” pungkasnya. [aje]






