Ringkasan Berita:
- BK DPRD Jember menyebut rokok menjadi identitas masyarakat Jember.
- Kebiasaan merokok saat rapat kembali disorot publik.
- Polemik muncul usai anggota DPRD tertangkap merokok dan bermain game saat rapat.
- Bupati Jember berharap aturan terkait merokok diperjelas.
Jember (beritajatim.com) – Kebiasaan merokok saat rapat di gedung DPRD Kabupaten Jember kembali menjadi sorotan publik setelah politisi Partai Gerindra, Achmad Syahri Assidiqi, tertangkap kamera sedang merokok dan bermain game saat rapat Komisi D bersama Dinas Kesehatan dan Dinas Sosial pada 11 Mei 2026.
Menanggapi polemik tersebut, Ketua Badan Kehormatan DPRD Jember, Mohammad Hafidi, mengatakan aktivitas merokok saat rapat memang sudah menjadi kebiasaan yang lazim di lingkungan DPRD Jember.
Menurutnya, persoalan tersebut memunculkan pro dan kontra di tengah masyarakat.
“Ada yang menyampaikan, apa bedanya merokok dengan menyediakan kopi pada saat rapat paripurna. Apa bedanya dengan rapat paripurna atau rapat dengar pendapat sambil makan,” katanya, Sabtu (16/5/2026).
Politisi Partai Kebangkitan Bangsa itu juga menegaskan bahwa tembakau memiliki kedekatan kuat dengan identitas masyarakat Jember.
“Persoalan di Jember ini untuk urusan rokok, beda dengan daerah lain. Di Jember, rokok adalah identitas. Yang menggunakan logo daun tembakau cuma Jember. Kalau hanya ngopi yang diperbolehkan ketika pelaksanaan rapat, ya sebaiknya logo daun tembakau diganti daun kopi saja,” ujarnya.
Hafidi menilai merokok dan minum kopi saat rapat tidak memiliki perbedaan signifikan dalam konteks kebiasaan di lingkungan DPRD.
“Tembakau jangan hanya dilihat dari sisi mudaratnya. Tapi manfaatnya, tembakau di Jember mampu menghidupi dan menyekolahkan sekian ribu anak,” katanya.
Kebiasaan merokok di ruang rapat DPRD Jember sebelumnya juga mendapat perhatian dari Muhammad Fawait.
Fawait mengaku terkejut melihat banyak anggota DPRD hingga kepala OPD merokok saat rapat berlangsung.
“Saya kaget, sepuluh tahun jadi anggota DPRD Provinsi Jawa Timur, kalau paripurna enggak ada yang merokok. Nah, pas masuk ke Jember, banyak yang merokok. Bukan cuma anggota DPRD, kepala OPD juga banyak yang merokok,” katanya, Rabu (13/5/2026).
Bupati Jember berharap polemik tersebut dapat menjadi momentum memperjelas aturan terkait aktivitas merokok di lingkungan pemerintahan dan ruang publik.
“Mudah-mudahan nanti aturannya diperjelas,” ujarnya.
Sementara itu, legislator perempuan dari Partai Golkar, Nilam Noor Fadilah Wulandari, mendukung adanya peraturan daerah yang membatasi aktivitas merokok di ruang publik.
“Itu akan lebih manis,” katanya. [wir/beq]






