Malang (beritajatim.com) – Dr. Karkono, M.A., dosen Departemen Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang (UM), baru saja merilis sebuah film edukatif bertema pendidikan dan pengasuhan anak. Film berjudul ‘Biar Kuncup Itu Mekar’ ini bertujuan untuk menyampaikan pesan penting mengenai pola asuh siswa di sekolah dan di rumah.
“Masih banyak guru dan orang tua yang menerapkan pola pengasuhan yang kurang tepat, sehingga berdampak negatif pada perkembangan anak,” ujar Karkono dalam diskusi dan pemutaran film yang digelar di Aula Lantai 9 Gedung A19 UM, Selasa (10/9/2024). Acara tersebut dihadiri oleh lebih dari 250 peserta yang terdiri dari guru, orang tua, dan mahasiswa.
Karkono, yang juga bertindak sebagai sutradara dan penulis skenario, menyoroti pentingnya pendidikan dan pengasuhan yang tepat, khususnya bagi guru dan orang tua. “Mahasiswa yang hadir hari ini, sebagian besar adalah calon orang tua dan guru, sehingga diskusi ini sangat relevan untuk masa depan pendidikan mereka,” ujar Karkono.
Film Biar Kuncup Itu Mekar memadukan elemen drama yang kuat dengan pesan edukatif yang mendalam, menjadikannya sarana yang efektif untuk menyampaikan pesan terkait pendidikan. Meskipun film ini berfokus pada edukasi, sisi dramatisnya tidak diabaikan sehingga banyak penonton yang terharu hingga menitikkan air mata.
Wakil Dekan 1 Fakultas Sastra UM, Evynurul Laeli Zein, Ph.D., yang turut hadir dalam acara tersebut, mengungkapkan bahwa pemutaran film ini merupakan bagian dari kegiatan Navastra untuk menyambut semester baru di Fakultas Sastra. Kegiatan ini rutin digelar setiap awal dan akhir semester, sebagai ajang kreativitas dan diskusi akademis.
Salah satu peserta, Rahmi Yulianti, S.Pd., guru dari MTsN 6 Malang, menyatakan bahwa tema yang diangkat dalam film ini sangat relevan dengan kondisi di sekolah. “Guru harus mampu menemukan strategi yang efektif dalam mengajar tanpa menimbulkan trauma pada siswa,” ujarnya.
Feby Heynoek, salah satu pemain dalam film tersebut, menyatakan bahwa keterlibatannya dalam produksi film ini memberikan pengalaman baru yang berharga. “Saya kini lebih mengapresiasi proses di balik layar, karena ternyata produksi film itu tidak semudah yang dibayangkan,” katanya.
Karkono menutup acara dengan menyatakan harapannya bahwa film ini dapat menjadi inspirasi bagi para pendidik dan orang tua dalam memperbaiki pola pengasuhan mereka sehingga generasi mendatang dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Film ini, meskipun sarat pesan edukatif, tetap disajikan dengan menarik agar mudah dipahami dan dinikmati oleh penonton. [dan/aje]






