Surabaya (beritajatim.com) – Pelatih Persebaya Surabaya, Bernardo Tavares, menegaskan bahwa fokusnya tidak semata tertuju pada pemain senior. Ia berkomitmen membangun kekuatan tim secara berkelanjutan melalui pembinaan pemain muda untuk kebutuhan skuad utama Bajol Ijo.
Menurut Tavares, proses tersebut tidak bisa instan dan harus diawali dengan pemahaman menyeluruh terhadap seluruh elemen klub, mulai dari akademi, pemain muda, hingga tim utama. Langkah ini dinilai penting untuk memetakan potensi yang dimiliki Persebaya secara utuh.
Sejak awal kedatangannya, pelatih asal Portugal itu mengaku telah melakukan analisis mendalam terhadap banyak pertandingan. Analisis tersebut dilakukan untuk mengenali karakter pemain, memetakan kekuatan yang ada, sekaligus menentukan aspek yang perlu diperbaiki dalam proses pembinaan.
“Sekarang kami harus mengenali rumah yang kami miliki, mulai dari akademi, pemain-pemain muda, hingga skuad tim utama. Saya sudah menganalisis banyak pertandingan. Saya juga melihat beberapa pemain yang berada di sini, yang bermain di klub lain atau di posisi berbeda, untuk mencoba memahami apa yang kami miliki dan apa yang perlu kami ubah,” jelasnya, Senin (5/1/2025).
Tavares juga menekankan bahwa kondisi kompetisi saat ini menuntut seluruh elemen tim untuk bersikap realistis. Ia menilai Persebaya tidak bisa sekadar memasang target besar tanpa fondasi yang kuat, terlebih ketika sejumlah tim pesaing telah unggul dalam perolehan poin.
“Kami juga menyadari bahwa saat ini posisi kami harus rendah hati. Ada tim-tim lain yang sudah mengoleksi 37, 36, hingga 35 poin. Sangat sulit untuk mengatakan bahwa kami harus menjadi juara. Kami tidak bisa mengatakan itu sekarang. Jika saya mengatakan hal tersebut saat ini, Anda akan menganggap saya tidak realistis. Jadi yang harus kami katakan adalah, mari kita bekerja bersama dan melihat apa yang kami miliki,” lanjutnya.
Dalam pandangan Tavares, pembinaan pemain tidak boleh dibatasi oleh faktor usia. Baik pemain muda maupun senior memiliki kesempatan yang sama untuk bermain, selama mampu menunjukkan kualitas, aktivitas, serta karakter permainan yang sesuai dengan harapan klub dan suporter.
“Bagi saya, pemain muda itu sama saja, baik yang berusia 15 tahun maupun 37 tahun. Siapa yang terbaik adalah siapa yang bermain. Mereka harus menunjukkan aktivitas yang baik dan memperlihatkan hal-hal yang ingin dilihat oleh orang-orang di sini dalam permainan,” imbuhnya.
Ia juga menegaskan bahwa proses pengembangan pemain harus tercermin langsung di lapangan. Keberanian untuk mencoba menang, memberikan kemampuan terbaik, serta kesiapan menerima hasil pertandingan—baik kemenangan maupun kekalahan—menjadi bagian penting dari proses pembelajaran, terutama bagi pemain muda.
Dengan pendekatan tersebut, pembinaan pemain muda ditegaskan sebagai fondasi utama dalam membangun Persebaya yang kompetitif sekaligus berkelanjutan dalam jangka panjang. [way/beq]






