Jember (beritajatim.com) – Badan Usaha Milik Nahdlatul Ulama (BUMNU) bukanlah pesaing badan usaha milik desa bersama (bumdesma) di Kabupaten Jember, Jawa Timur. Bupati Hendy Siswanto menghendaki BUMNU dan 26 bumdesma bisa berkolaborasi dan bersinergi.
“Kami mempunyai 26 bumdesma, yang punya 86 ribu anggota. Itu butuh Bapokting (Bahan Pokok Penting). Butuh beras, minyak, garam. Kami berharap BUMNU bisa bekerja sama lewat bumdesma, agar mengambil barang di sini,” kata Bupati Hendy, dalam acara pencanangan gerakan kemandirian NU, di Kabupaten Jember, Senin (6/2/2023).
BUMNU Jember adalah grosir bahan pokok penting di masyarakat. “Jadikan bumdesma kami sebagai distributor. Anggota bumdesma bisa menjadi agen. Kami berharap BUMNU mendapat profit sedikit saja, agar bumdesma bisa menjual lebih murah dan cukup ambil untung sedikit saja. Jadi agennya bisa menjual lagi. Hilirnya nanti di tetangganya,” kata Hendy.
Hendy siap mendukung kolaborasi ini dengan anggaran pendapatan belanja daerah (APBD). “Kami bisa beli di bumdesma atau beli di sini. Nanti agen (penjualan) bisa bergerak ke bawah, karena untuk menekan angka stunting dan kemiskinan ekstrem, kami akan belanjakan uang APBD di desa-desa,” katanya.
“Kalau di desa itu ada stunting dan kemiskinan ekstrem, saya belanjanya di UMKM sana. Bahan makanan itu seperti beras, susu, gula, akan dikelola ibu-ibu PKK di sana. Kami akan putar uang APBD Jember ini yang bisa dirasakan hari ini. Bukan nanti,” kata Hendy.
Hendy menegaskan, peran usaha mikro kecil menengah (UMKM) dalam iklim ekonomi saat ini sangat besar. “Investasi berat. Sepi. Investasi susah. Maka itu kita harus bermain di grass root, di UMKM. Dengan adanya BUMNU dan semangat mengangkat perekonomian warga nahdliyyin ini pas, klop. Mari kita berkolaborasi dan bersinergi. Kekuatan kearifan lokal kita nampakkan di sini,” katanya.
[berita-terkait number=”4″ tag=”bupati-hendy-siswanto”]
Hendy berharap BUMNU di Jember bukan sekadar proyek percontohan. “Tapi BUMNU di Jember bisa membantu warga nahdliyyin agar bisa lenih sejahtera lagi dan kemiskinan ekstrem tidak ada lagi,” katanya.
Konsep kerja sama BUMNU dan bumdesma ini pernah disampaikan kepada beritajatim.com beberapa waktu lalu. “Tidak ada lagi namanya kompetitor. Yang ada sinergi dan kolanorasi. Pasar BUMNU dan bumdesma ini beda. Pasar BUMNU ini grosir. Kalau kita ambil dua atau tiga poin bapokting seperti beras, minyak goreng, telur (untuk dijual anggota bumdesma), itu sudah luar biasa,” kata Hendy. [wir/but]






