Jombang (beritajatim.com) — Suara kokok ayam belum sempat membangunkan pagi, namun di Dusun Sumoyono, Desa Cukir, Kecamatan Diwek, keheningan Selasa dini hari (17/6/2025) sudah lebih dulu dipecahkan oleh aksi nekat kawanan pencuri.
Target mereka bukan rumah mewah, bukan pula kendaraan bermotor—melainkan seekor kambing milik Cahyono (58), warga yang sudah tiga kali jadi korban pencurian serupa.
Aksi pencurian yang terjadi sekitar pukul 02.11 WIB itu terekam jelas oleh kamera CCTV. Dalam rekaman yang kemudian viral di media sosial itu, terlihat seorang pria bertubuh tambun, berkepala plontos, dan mengenakan jaket, menggendong kambing keluar dari kandang. Meski hanya satu orang yang terekam, Cahyono menduga kuat pelaku tidak sendirian.
“Kalau sendirian, kayaknya nggak mungkin bisa bawa kambing segitu. Pasti ada temannya yang nunggu di luar jangkauan kamera,” ujarnya ketika ditemui di rumahnya. Ia menyayangkan kejadian ini, karena selain kerugian sekitar Rp1,8 juta, ini adalah kali keempat kambingnya digondol maling.
Cahyono pertama kali menyadari kehilangan saat hendak ke pasar pagi itu. Ia kaget saat melihat pintu kandang sudah terbuka. Dugaan awalnya langsung terbukti saat seorang tetangga menunjukkan video dari media sosial yang menampilkan aksi pencurian tersebut.
Yang membuat hati Cahyono makin perih, kejadian seperti ini bukanlah yang pertama. Tahun 2023, satu ekor kambingnya raib. Tahun berikutnya, dua ekor menyusul hilang. Namun selama ini, Cahyono memilih menahan diri. “Waktu itu saya biarkan. Mungkin pelakunya butuh uang. Tapi kalau diteruskan begini ya sudah keterlaluan. Apalagi sudah viral,” katanya.

Kini, kesabarannya habis. Ia melapor ke Polsek Diwek. Kapolsek Diwek, AKP Edy Widoyono, membenarkan laporan tersebut dan mengatakan pihaknya telah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). “Kami masih melakukan penyelidikan dan mengejar pelaku,” ujarnya.
Pihak kepolisian berharap bantuan masyarakat untuk melacak pelaku yang meresahkan warga tersebut. Aksi pencurian hewan ternak ini, selain merugikan secara materi, juga menebar rasa takut dan ketidaknyamanan di tengah kehidupan desa yang biasanya tenang. [suf]






