Lamongan (beritajatim.com) – Sejumlah penjahit rumahan di Kabupaten Lamongan mendapat berkah saat bulan Ramadhan 1444 H. Mereka banjir pesanan baju lebaran dari para pelanggan.
Salah satu dari penjahit rumahan itu bernama Asmawiyah, yang usahanya berlokasi di Desa Karangwungu Lor, Kecamatan Laren, Lamongan. Ia menyebut, jika pesanan yang ia terima mulai ramai sejak awal puasa Ramadhan.
“Alhamdulillah, sudah mulai ramai. Sejak awal Ramadhan, banyak yang datang untuk menjahitkan baju mereka untuk lebaran,” ujar Asmawiyah, Selasa (28/3/2023).
Menurut Asmawiyah, pesanan jahitan yang ia terima pada tahun ini terbilang membludak jika dibandingkan puasa tahun sebelumnya.
Saat memasuki bulan Ramadhan kali ini, sambung Asmawiyah, sudah ada ratusan pesanan yang harus ia jahit sebelum Hari Raya Idulfitri mendatang. Padahal, saat hari-hari biasa, pesanan yang ia terima hanya berjumlah puluhan saja.
Baca Juga:
Difabel di Lamongan Terima Bantuan Asistensi dari Kemensos
“Jika pada bulan-bulan biasa, rata-rata mendapat pesanan 20 sampai 30 baju. Alhamdulillah, untuk bulan Ramadhan kali ini sudah mendapatkan ratusan pesanan jahitan baju dari pelanggan untuk dipakai saat lebaran,” tandasnya.
Sebagian besar pelanggan yang datang ke tempatnya, tutur Asmawiyah, rata-rata membawa kain sendiri. Dari kain milik pelanggan itu, dia kemudian membuat pola untuk dijahit sesuai keinginan pelanggan.
Dengan ramainya pesanan tersebut, Asmawiyah mengaku bersyukur. Usaha jasa jahit baju rumahan yang sudah ia lakoni selama puluhan tahun itu masih diminati pelanggan dan mampu bertahan di tengah gempuran modernisasi.
“Syukur Alhamdulillah, pesanan selama bulan puasa ini cukup membludak. Untuk menuntaskan banyaknya orderan jahitan ini, biasanya saya mengajak adik dan anak untuk turut membantu,” bebernya.
Baca Juga:
Mazoola dan WBL Jadi Lokasi Favorit Rekreasi Saat Ramadhan
Lebih lanjut, Asmawiyah mengaku tidak mematok ongkos yang tinggi terhadap jasa jahit pembuatan baju yang ia kerjakan. Ongkos itu cukup murah berkisar antara Rp40 ribu hingga Rp50 ribu, tergantung tingkat kesulitan dan jenis model baju yang diinginkan pelanggan.
“Pelanggannya beragam mas, ada yang dari Lamongan sendiri, ada juga yang datang dari Surabaya, bahkan ada yang datang dari Magelang dan Palembang,” jelasnya.
Dia berharap, momen Ramadhan di tahun ini bisa menjadi pemantik bagi dirinya dan para pelaku usaha kecil lainnya untuk bangkit dari pandemi. Ia juga berharap, usahanya itu mampu bertahan dari banyaknya produk-produk hasil pabrikan yang beredar di pasaran.
“Semoga tetap bisa bertahan,” pungkasnya. [riq/beq]






